Hujan turun tanpa jeda sore itu.
Bukan cuma rintik biasa… tapi deras, dingin, dan terasa berat. Seolah langit lagi nggak baik-baik aja. Di sudut rumah kecil yang sederhana, seorang anak perempuan berusia empat tahun duduk diam. Namanya Indah.
Tangannya memeluk boneka lusuh yang jahitannya mulai lepas. Matanya besar, jernih… tapi hari itu penuh tanda tanya.
Ramai.
Rumahnya nggak seperti biasanya. Banyak orang datang.
Banyak suara berbisik.
Banyak wajah yang kelihatan sedih.
Tapi buat Indah… semua itu cuma terasa aneh.
“Ibu…”
Suaranya kecil.
“Ibu… Ayah kenapa tidur terus?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi buat ibunya, Ratmi… itu seperti pisau yang pelan-pelan mengiris hati.
Ratmi diam. Bibirnya gemetar. Tangannya dingin.
Ia menatap tubuh suaminya, Kasno, yang terbujur kaku di tengah ruangan, diselimuti kain putih. Beberapa jam yang lalu… lelaki itu masih hidup.
Masih kerja.
Masih cari nafkah.
Sekarang?
Diam.
Selamanya. Ratmi akhirnya berjalan pelan ke arah Indah. Ia berlutut.
Memeluk anaknya erat. Erat banget… seolah takut kehilangan lagi.
“Ayah… sudah pulang ke Allah, Nak…”
Suaranya pecah. Indah mengernyit. Nggak paham.
“Memangnya… Allah di mana, Bu?”
Ratmi nggak bisa jawab. Bukan karena nggak tahu…
tapi karena terlalu sakit untuk dijelaskan. Indah cuma tahu satu hal. Ayahnya belum bangun. Dan mungkin… nanti juga bangun.
Seperti biasa. Seperti setiap hari.
… MoreTapi sore itu bukan hari biasa. Dan hidup mereka…
nggak akan pernah biasa lagi. Kasno bukan orang hebat.
Bukan orang kaya. Dia cuma driver ojek online. Setiap hari keluar pagi-pagi, pulang malam.
Kadang bawa uang cukup.
Kadang pas-pasan.
Kadang malah harus nahan lapar. Tapi satu hal yang selalu dia jaga:
“Indah harus sekolah tinggi ya… jangan kayak Bapak…”
Itu kalimat favoritnya. Simple.
Tapi penuh harapan. Kasno itu tipe ayah yang nggak banyak gaya.
Nggak jago ngomong manis. Tapi setiap pulang…
dia selalu bawa sesuatu.
Kadang gorengan.
Kadang permen.
Kadang cuma senyum.
“Indah… lihat Bapak bawa apa?”
Dan Indah akan lari kecil.
“Apaaa???”
Lalu tertawa. Kecil.
Bahagia.
Sederhana. Sekarang…Nggak ada lagi itu semua.
Sore itu, hujan makin deras. Suara tangisan mulai pecah di beberapa sudut rumah. Tetangga datang.
Kerabat berdatangan.
Semua sibuk. Tapi Indah… masih duduk. Masih nunggu. “Ibu… nanti Ayah bangun kan?”
Pertanyaan kedua. Lebih pelan. Lebih dalam. Dan kali ini…
Ratmi nggak kuat lagi. Air matanya jatuh. Tanpa suara. Tanpa bisa ditahan.
Ia memeluk Indah lebih erat. Maafkan Ibu, Nak…
Ibu nggak tahu harus jawab apa…Malam datang.
Lampu rumah dinyalakan. Suasana makin sendu. Indah mulai ngantuk. Tapi dia nolak tidur.
“Aku mau nunggu Ayah…”
Katanya. Pelan. Tapi tegas. Jam terus berjalan. Satu per satu orang mulai pulang. Tapi ayahnya…
tetap diam.
Akhirnya, Indah tertidur di pangkuan ibunya. Dengan mata yang masih basah. Dengan harapan yang belum sempat patah. Malam itu…
Ratmi duduk sendiri. Di samping jasad suaminya. Ia menatap wajah Kasno lama.
“Mas… aku harus gimana sekarang…”
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Indah masih kecil… aku sendirian…”
Air mata jatuh lagi. Dan kali ini… nggak ada yang bisa menahannya. Ia ingat terakhir kali mereka ngobrol.
Kasno pamit kerja. Seperti biasa.
“Nanti malam kita makan bareng ya…”
Kalimat sederhana. Yang ternyata…jadi kalimat terakhir. Telepon itu datang siang hari. Nomor asing. Suara di seberang pelan, tapi jelas.
“Kami dari kepolisian…”
Dan sejak kalimat itu…dunia Ratmi runtuh.
Kasno mengalami kecelakaan. Motor yang ia kendarai tertabrak. Ia tidak tertolong. Ratmi bahkan nggak sempat mengucapkan selamat tinggal. Nggak sempat bilang terima kasih. Nggak sempat minta maaf. Sekarang… yang tersisa hanya penyesalan. Dan kenyataan yang terlalu berat. Di luar, hujan masih turun.
Seolah nggak mau berhenti. Seolah ikut menangis. Tengah malam. Rumah sudah sepi. Indah tiba-tiba terbangun.
“Ibu…”
Ratmi menoleh cepat.
“Iya, Nak?”
“Ibu… Ayah belum pulang ya?”
Kalimat itu… lagi. Dan lagi. Dan lagi. Ratmi menggigit bibirnya. Ia ingin kuat. Ia harus kuat. Untuk Indah. “Iya, Nak… Ayah sudah pulang…”
“Ke mana?”
Ratmi menarik napas panjang.
“Ke tempat yang lebih baik…”
Indah diam. Mikir. Tapi tetap nggak paham. “Kalau gitu… besok Ayah pulang lagi kan?”
Dan saat itu…hati Ratmi benar-benar hancur. Ia memeluk Indah. Erat. Sangat erat. Seolah pelukan itu bisa menggantikan kehilangan. Di luar, suara hujan perlahan mengecil.
Tapi di dalam rumah itu… badai baru saja dimulai. Hari-hari setelahnya…
nggak mudah. Sama sekali nggak mudah. Nggak ada lagi suara motor berhenti di depan rumah. Nggak ada lagi suara pintu dibuka sambil bilang:
“Indah… Bapak pulang!”
Nggak ada lagi. Kosong. Ratmi harus mulai dari nol. Sendiri. Pagi-pagi sekali, ia sudah bangun.
Menyiapkan air.
Menyiapkan tenaga. Lalu berangkat kerja. Jadi buruh cuci. Dari satu rumah ke rumah lain. Tangan yang dulu halus…perlahan jadi kasar. Kulitnya mulai pecah. Tapi ia nggak pernah mengeluh. Siang hari…
ia lanjut bantu di warung Bu Darmi. Cuci piring.
Bersih-bersih.
Apapun yang bisa dikerjakan. Malam hari…
ia pulang. Dengan tubuh lelah. Dengan tenaga yang hampir habis. Tapi begitu melihat Indah…ia tetap tersenyum. “Indah sudah makan?”
“Iya, Bu…”
“Pintar anak Ibu…”
Padahal…kadang Ratmi sendiri belum makan.
Suatu hari…Indah memegang tangan ibunya.
“Ibu…”
“Iya, Nak?”
“Tangan Ibu kenapa kasar?”
Ratmi tersenyum kecil.
“Karena Ibu kerja…”
“Kerja buat siapa?”
“Buat Indah…”
Indah diam. Menatap tangan itu lama. Saat itu…
ia belum benar-benar mengerti. Tapi hatinya mulai belajar sesuatu. Bahwa cinta…nggak selalu terlihat indah. Kadang…terlihat lelah. Malam itu…Indah terbangun lagi. Haus. Ia berjalan pelan ke dapur.
Lalu berhenti. Ia melihat sesuatu. Ibunya…sedang sholat. Di tengah malam. Sendirian. Dalam diam. Dan…menangis.
“Ya Allah…” Suara Ratmi lirih.
“Hamba nggak kuat…”
“Tapi hamba harus kuat…”
“Untuk anak hamba…”
Indah berdiri diam. Di balik pintu. Matanya berkaca-kaca. Ia nggak ngerti semuanya. Tapi ia tahu…ibunya lagi sedih. Dan anehnya…
hatinya ikut sakit. Sejak malam itu…ada sesuatu yang berubah dalam diri Indah. Ia mulai sering diam. Lebih banyak melihat. Lebih banyak merasa. Dan tanpa sadar…
ia mulai belajar satu hal penting.