Pagi itu belum benar-benar terang. Langit masih abu-abu, udara dingin, dan suara ayam baru sesekali terdengar. Tapi di rumah kecil itu…hari sudah dimulai sejak lama.
Ratmi sudah bangun sejak sebelum subuh. Air sudah dipanaskan.
Ember sudah disiapkan.
Dan pakaian-pakaian kotor dari rumah tetangga sudah menumpuk di sudut dapur.
Indah masih terlelap. Wajahnya tenang. Seolah dunia belum pernah menyakitinya. Ratmi menatap anaknya lama. Hatinya sesak.
“Maafin Ibu ya, Nak… hidupmu harus sekeras ini…”
Ia mengusap rambut Indah pelan. Lalu berbalik. Kembali ke dunia nyata. Air mulai berbuih. Tangannya mulai bekerja. Mengucek.
Menyikat.
Memeras. Berulang. Tanpa henti. Setiap gerakan seperti punya satu tujuan:
Supaya Indah tetap bisa makan… dan sekolah.
… MoreBeberapa menit kemudian, Indah terbangun.
“Ibu… Ibu udah kerja lagi ya…”
Suaranya masih serak. Ratmi menoleh.
“Iya, Nak… bangun yuk, kita sarapan dulu.”
Sarapan mereka sederhana. Kadang nasi dengan garam.
Kadang nasi dengan kecap.
Kadang… cuma teh hangat. Tapi Ratmi selalu bilang:
“Yang penting kita makan bareng…”
Indah duduk diam. Pelan-pelan makan. Nggak pernah protes.
Padahal di luar sana…anak-anak lain sarapannya roti, susu, atau bahkan sereal. Indah mulai sadar. Hidupnya…
berbeda. Hari itu, Indah mulai masuk SD.
Seragamnya bukan baru. Itu seragam bekas dari anak tetangga. Agak kebesaran.
Sedikit pudar. Sepatunya? Sudah mulai mengelupas di bagian depan.
“Ibu… ini nggak apa-apa?”
Indah bertanya pelan. Ratmi tersenyum.
“Nggak apa-apa, Nak… yang penting kamu sekolah.”
Indah mengangguk. Walau di dalam hati… ia sedikit minder.
Hari pertama sekolah. Ramai.
Banyak anak-anak diantar orang tua. Ada yang diantar ayahnya naik motor.
Ada yang digandeng ibunya.
Indah? Jalan kaki. Sama ibunya. Saat sampai di gerbang…Indah melihat pemandangan itu lagi. Ayah.
Ibu.
Keluarga lengkap. Ia diam. Tangannya menggenggam tangan Ratmi lebih erat.
“Ibu…”
“Iya?”
“Indah… nggak punya Ayah ya…”
Pertanyaan itu…datang lagi. Ratmi berhenti. Menatap Indah. Lalu tersenyum pelan.
“Kamu punya Allah, Nak… itu lebih dari cukup.”
Indah nggak sepenuhnya ngerti. Tapi entah kenapa…kalimat itu terasa hangat. Hari-hari sekolah mulai berjalan. Dan pelan-pelan…Indah mulai merasakan realita.
“Eh… sepatu kamu jelek ya…”
Suara itu datang tiba-tiba. Seorang anak laki-laki menunjuk sepatu Indah. Beberapa anak lain tertawa kecil. Indah diam. Menunduk. Ia ingin marah.
Ingin nangis. Tapi…ia cuma menggenggam roknya. Sepulang sekolah…
ia berjalan lebih cepat. “Ibu…”
Suaranya bergetar.
“Iya, Nak?”
“Kalau Indah punya sepatu baru… mahal ya?”
Ratmi terdiam. Hatinya seperti diremas.
“Iya, Nak… lumayan mahal…”
“Oh…”
Indah cuma menjawab itu. Dan sejak saat itu…ia nggak pernah minta lagi. Malam itu…Ratmi menangis lagi. Diam-diam.
“Ya Allah… anakku nggak pernah minta apa-apa…”
“Tapi aku juga belum bisa kasih apa-apa…”
Di sisi lain rumah…Indah juga belum tidur.Ia melihat sepatunya. Yang sudah mulai rusak.
Lalu ia bicara pelan…seolah pada dirinya sendiri.
“Nggak apa-apa…”
“Yang penting masih bisa dipakai…”
Sejak saat itu…Indah mulai berubah. Ia jadi lebih kuat. Lebih diam. Lebih dewasa… dari usianya.
Di sekolah…ia mulai fokus belajar.
Karena satu hal yang ia pegang: Kalau nggak punya uang… harus punya ilmu.
Ia rajin. Selalu duduk di depan. Selalu memperhatikan.\Selalu mengerjakan tugas.
Suatu hari…gurunya memanggil.
“Indah, kamu pintar ya…”
Indah tersenyum kecil.
“Terus belajar ya… kamu bisa jadi orang besar nanti.”
Kalimat itu…tertanam dalam. Sepulang sekolah…Indah membantu ibunya. Kadang ikut melipat baju. Kadang mengantar cucian.Kadang menyapu warung Bu Darmi.
“Ibu… capek nggak?”
Ratmi tersenyum.
“Kalau lihat kamu… nggak capek.”
Indah tahu itu bohong. Tapi ia juga tahu…itu cinta. Hari demi hari berlalu.
Suatu sore…hujan turun lagi.Mirip seperti hari ayahnya pergi.
Indah duduk di depan rumah. Menatap jalan.Sejenak… ia seperti berharap…ayahnya datang lagi. Dengan motor. Dengan senyum. Dengan suara:
“Indah… Bapak pulang!”
Tapi…nggak ada siapa-siapa. Hanya hujan.Dan kenangan.
“Ibu…”
“Iya, Nak?”
“Kalau Indah belajar yang rajin… Ayah senang nggak ya?”
Ratmi menatap langit. Menahan air mata.
“Pasti senang banget…”
Indah tersenyum.
“Kalau gitu… Indah mau jadi pintar…”
Sejak hari itu…Indah punya tujuan. Bukan untuk kaya. Bukan untuk terkenal. Tapi untuk satu hal sederhana:
Membahagiakan ibunya… dan membuat ayahnya bangga.
Waktu terus berjalan. Indah naik kelas. Lalu naik lagi. Sepatunya sudah makin rusak. Tasnya sudah mulai sobek.Tapi semangatnya… nggak pernah turun.
Ia sering belajar di bawah lampu redup. Kadang sambil menahan lapar. Kadang sambil menahan kantuk. Tapi ia tetap bertahan.
Karena ia tahu…hidupnya nggak boleh berhenti di sini. Di balik semua itu…Ratmi terus berdoa. Setiap malam. Setiap sujud.
“Ya Allah… cukup aku saja yang merasakan susah…”
“Jangan anakku…”
Dan Allah…tidak pernah tidur. Tanpa mereka sadari…langkah kecil itu…sedang membawa mereka ke sesuatu yang besar.
Perjalanan masih panjang. Masih banyak luka. Masih banyak ujian. Tapi satu hal mulai terlihat:
Indah…tidak lagi sekecil dulu.
Ia sudah mulai mengerti hidup. Walau belum sepenuhnya. Dan di dalam hatinya…mulai tumbuh sesuatu:
Harapan.
Karena suatu hari nanti…ia akan membuktikan:
Semua akan indah… pada waktunya.