Semua Akan Indah Pada Waktunya

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Cahya T

2026 | 2 Episode | Karir | ★ 0.0 (0) | ❤ 0

Lihat selengkapnya
Baca Semua
Komentar Belum ada komentar
Episode
thumb FREE
01 - Sejak Ayah Pergi
0x dibaca NEW

Hujan turun tanpa jeda sore itu.Bukan cuma rintik biasa… tapi deras, dingin, dan terasa berat. Seolah langit lagi nggak baik-baik aja. Di sudut rumah kecil yang sederhana, seorang anak perempuan berusia empat tahun duduk diam. Namanya Indah.Tangannya memeluk boneka lusuh yang jahitannya mulai lepas. Matanya besar, jernih… tapi hari itu penuh tanda tanya.Ramai.Rumahnya nggak seperti biasanya. Banyak orang datang.Banyak suara berbisik.Banyak wajah yang kelihatan sedih.Tapi buat Indah… semua itu cuma terasa aneh.“Ibu…”Suaranya kecil.“Ibu… Ayah kenapa tidur terus?”Pertanyaan itu sederhana.Tapi buat ibunya, Ratmi… itu seperti pisau yang pelan-pelan mengiris hati.Ratmi diam. Bibirnya gemetar. Tangannya dingin.Ia menatap tubuh suaminya, Kasno, yang terbujur kaku di tengah ruangan, diselimuti kain putih. Beberapa jam yang lalu… lelaki itu masih hidup.Masih kerja.Masih cari nafkah.Sekarang?Diam.Selamanya. Ratmi akhirnya berjalan pelan ke arah Indah. Ia berlutut.Memeluk anaknya erat. Erat banget… seolah takut kehilangan lagi.“Ayah… sudah pulang ke Allah, Nak…”Suaranya pecah.  Indah mengernyit. Nggak paham.“Memangnya… Allah di mana, Bu?”Ratmi nggak bisa jawab. Bukan karena nggak tahu…tapi karena terlalu sakit untuk dijelaskan. Indah cuma tahu satu hal. Ayahnya belum bangun. Dan mungkin… nanti juga bangun.Seperti biasa. Seperti setiap hari.

Baca
thumb FREE
02 - Kecil-Kecil Sudah Paham Luka
0x dibaca NEW

Pagi itu belum benar-benar terang. Langit masih abu-abu, udara dingin, dan suara ayam baru sesekali terdengar. Tapi di rumah kecil itu…hari sudah dimulai sejak lama.Ratmi sudah bangun sejak sebelum subuh.  Air sudah dipanaskan.Ember sudah disiapkan.Dan pakaian-pakaian kotor dari rumah tetangga sudah menumpuk di sudut dapur.Indah masih terlelap. Wajahnya tenang. Seolah dunia belum pernah menyakitinya. Ratmi menatap anaknya lama. Hatinya sesak.“Maafin Ibu ya, Nak… hidupmu harus sekeras ini…”Ia mengusap rambut Indah pelan. Lalu berbalik. Kembali ke dunia nyata. Air mulai berbuih. Tangannya mulai bekerja. Mengucek.Menyikat.Memeras. Berulang. Tanpa henti. Setiap gerakan seperti punya satu tujuan:Supaya Indah tetap bisa makan… dan sekolah.

Baca
Komentar
Belum ada komentar