Jalan Pulang Indra

Saat Kebenaran Pulang ke Rumah

Saat Kebenaran Pulang ke Rumah

 

Malam itu… jalan menuju Kota T terasa lebih panjang dari biasanya. Indra mengemudi dalam diam.

Tidak ada musik.Tidak ada candaan. Tidak ada suara selain deru mesin dan gesekan ban dengan aspal yang masih basah sisa hujan.

Di sampingnya, Sobirin hanya sesekali melirik. Ia tahu… Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah malam… di mana semuanya akan berubah.

Beban yang Tak Terlihat. Setiap kilometer terasa berat. Setiap lampu jalan seperti menyorot langsung ke wajah Indra… seolah menghakimi.

Di kepalanya, suara itu terus berulang:

“Aku hamil, Mas…”

“Kamu tanggung jawab kan?”

Indra menggenggam setir lebih kuat. Rahangnya mengeras. Namun di dalam dadanya…Ada sesuatu yang retak.

“Mas… kita langsung pulang?” tanya Sobirin pelan.

Indra mengangguk. Singkat. Tanpa emosi. Namun Sobirin tahu…Justru itulah tanda bahaya. Rumah yang Tidak Lagi Sama

Di Kota T…Lampu rumah itu masih menyala.Seperti biasa. Seperti menunggu.

Namun malam ini… Ada sesuatu yang berbeda. Juleha tidak duduk di dapur.

Tidak menyiapkan makanan.Tidak tersenyum di pintu. Ia duduk di ruang tamu. Diam.

Dengan wajah yang tenang… tapi mata yang sudah mengatakan segalanya.

 … More

Pintu rumah terbuka. Indra masuk. Langkahnya berat. Namun ia tetap mencoba terlihat biasa.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam…”

Jawaban itu terdengar. Namun tidak seperti biasanya. Tidak ada kehangatan. Tidak ada senyum. Indra langsung merasa…

Ada yang tidak beres. Tatapan yang Tidak Bisa Dihindari. Ia melangkah masuk. Dan melihat Juleha. Duduk diam. Menatapnya.

Tatapan itu…Bukan marah. Bukan benci.

Tapi…

Lebih dalam dari itu. Indra berhenti. Untuk pertama kalinya…Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Mas… capek?”

Suara Juleha lembut. Namun terasa seperti pisau.

“Iya…”

Jawaban Indra pendek.

“Perjalanan jauh ya…”

“Iya…”

Hening. Namun hening kali ini… Menyesakkan. Awal dari Ledakan. Juleha berdiri. Pelan. Lalu berjalan ke arah meja. Mengambil sesuatu.

Sebuah ponsel. Indra langsung mengenali. Itu ponselnya. Yang tertinggal. Dan saat Juleha mengangkatnya…

Jantung Indra langsung berdegup keras.

“Mas…”

Suara itu… Masih lembut.

“Tadi… ada pesan masuk…”

Indra tidak bergerak.

“…aku baca.”

Satu kalimat. Dan dunia Indra runtuh.

Juleha tidak berteriak. Tidak menangis histeris. Ia hanya…Menatap Indra.

“Mas…”

“…aku hamil…”

Juleha mengulang kalimat itu. Persis seperti yang tertulis. Namun dengan suara yang bergetar.

“Kalimat itu…”

“…bukan dari aku…”

Air mata mulai jatuh.

“Tapi harusnya… dari aku…”

Boom. Kalimat itu…Menghantam Indra tanpa ampun. Pertahanan yang Runtuh

“Leha… aku bisa jelasin—”

“Jangan.”

Satu kata. Namun cukup untuk menghentikan semuanya. Juleha menggeleng. Air matanya terus mengalir.

“Jangan bohong lagi, Mas…”

Suara itu pecah.

“Aku capek… kalau harus percaya… tapi terus disakiti…”

Indra terdiam. Untuk pertama kalinya… Ia tidak punya kata. Ledakan Emosi yang Tertahan Bertahun-Tahun

“Aku diam bukan karena aku bodoh, Mas!”

Suara Juleha tiba-tiba meninggi.

“Aku diam… karena aku berharap kamu berubah!”

Tangisnya pecah.

“Aku tahu semuanya!”

Indra membeku.

“Aku tahu kamu punya wanita lain!”

“Aku tahu kamu sering bohong!”

“Aku tahu kamu tidak sepenuhnya pulang ke aku!”

Setiap kalimat…Seperti palu yang menghantam.

“Tapi aku tetap bertahan…”

Suaranya melemah.

“…karena aku percaya… kamu bisa jadi lebih baik…”

Juleha jatuh terduduk.

“Kenapa, Mas…?”

Pertanyaan itu…Pelan. Namun menghancurkan.

“Kenapa aku tidak pernah cukup?”

Indra Hancur di Tempatnya Berdiri. Indra mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya…Ia melihat istrinya bukan sebagai seseorang yang “pasti akan tetap ada”…

Tapi sebagai seseorang yang…Bisa hancur. Dan itu… Karena dirinya.

“Leha…”

Suaranya gemetar.

“Aku salah…”

Satu kalimat yang akhirnya keluar. Namun… Sudah terlambat? Tangisan yang Tidak Sama Lagi. Juleha mengangkat wajahnya.

“Mas…”

“Aku nggak butuh kamu sempurna…”

Suaranya lirih.

“Aku cuma butuh kamu jujur…”

Air matanya terus mengalir.

“Tapi kamu…”

“…bahkan itu pun nggak kasih…”

Indra menutup wajahnya. Dadanya sesak. Sangat sesak. Pilihan yang Tidak Bisa Ditunda

“Sekarang aku tanya…”

Juleha menatap langsung ke mata Indra.

“Perempuan itu…”

“…dan anaknya…”

“Bagaimana?”

Hening. Tidak ada jalan kabur. Tidak ada alasan. Tidak ada kebohongan. Hanya satu hal: Jawaban.

Indra menelan ludah. Dan untuk pertama kalinya…Ia merasa takut kehilangan. Bukan wanita lain. Tapi…Rumahnya.

“Aku…”

Suaranya tertahan.

“…aku nggak tahu harus gimana…”

Jawaban itu…Jujur.Namun juga…Menyakitkan.

Juleha menutup mata. Air matanya jatuh lagi.

“Berarti… selama ini…”

“…kamu bahkan nggak pernah mikir tentang aku…”

Indra ingin menyangkal.Namun…Ia tidak bisa. Batas yang Akhirnya Terucap.

Juleha berdiri. Tubuhnya lemah. Namun suaranya…Kuat.

“Mas…”

“Aku tidak akan meninggalkan kamu…”

Indra menatap. Terkejut.

“Tapi…”

Kalimat itu menggantung.

“…aku juga tidak akan membiarkan diriku terus dihancurkan…”

Sunyi.

“Malam ini…”

“…kamu pikirkan.”

“Kamu mau jadi suami yang benar…”

“…atau terus jadi orang asing di rumah sendiri.”

Diam yang Lebih Menyakitkan dari Amarah. Juleha berjalan menuju kamar. Tidak membanting pintu. Tidak berteriak lagi.

Namun justru itu…Yang paling menyakitkan. Indra berdiri sendiri. Di ruang tamu. Dengan semua kesalahan. Semua dosa. Semua kenyataan.

Yang akhirnya…Tidak bisa ia lari lagi.

Sobirin Menjadi Saksi dari Luar. Di luar rumah…Sobirin duduk di atas motor. Ia mendengar samar-samar suara di dalam.

Namun ia tidak berani masuk. Ia hanya menunduk.

“Ya Allah…”

“Selamatkan Mas Indra…”

Karena ia tahu…Malam ini…Adalah titik balik. Atau…Titik kehancuran.

Next Episode