Subuh belum benar-benar datang.Langit masih gelap, hanya sedikit semburat biru di ufuk timur. Udara dingin menusuk hingga ke tulang.
Di dalam rumah kecil itu…Indra belum tidur.
Sejak percakapan tadi malam… matanya tak bisa terpejam. Ia duduk di ruang tamu. Sendirian. Lampu masih menyala. Ponsel di tangannya… terasa seperti benda paling berat di dunia.
Kata-kata Juleha terus berputar di kepalanya.
“Aku diam bukan karena aku bodoh…”
“Aku cuma butuh kamu jujur…”
“Kamu mau jadi suami… atau orang asing di rumah sendiri?”
Indra menutup wajahnya. Dadanya sesak. Selama ini… ia merasa mengendalikan semuanya. Mengatur semuanya. Menikmati semuanya.
Tapi malam tadi…Ia sadar satu hal: Ia tidak pernah benar-benar memegang kendali.
Yang ia lakukan…Hanya menunda kehancuran.
Adzan subuh berkumandang. Suara itu… terasa berbeda. Biasanya hanya lewat begitu saja. Namun pagi ini…
Seperti memanggil langsung ke hatinya. Indra berdiri. Pelan. Ragu. Sudah berapa lama ia tidak shalat? Ia bahkan tidak ingat.