Suara klakson panjang memecah pagi. Bus melaju meninggalkan terminal, menembus kabut tipis yang menggantung di jalan lintas provinsi. Matahari belum tinggi, tapi panasnya sudah terasa seperti pertanda: hari ini… tidak akan biasa. Di balik kemudi, Indra terlihat tenang. Terlalu tenang.
Sementara di sebelahnya, Sobirin justru gelisah. Sejak percakapan semalam, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Kata-kata Indra masih terngiang:
“Dia nggak akan ke mana-mana.”
Entah kenapa… kalimat itu terasa seperti kesombongan yang suatu hari akan dibayar mahal. Perjalanan pagi itu relatif sepi. Penumpang masih setengah tertidur. Musik dangdut pelan mengalun dari speaker depan.
Sobirin memegang ponsel Indra. Bukan tanpa alasan.
“Mas, tak pinjam HP-nya ya, buat cek nomor agen,” katanya tadi.
Indra hanya mengangguk tanpa melihat. Kesalahan kecil. Atau mungkin… awal dari semuanya. Sobirin membuka layar.
Dan di situlah ia melihat sesuatu yang membuat dadanya langsung sesak. Puluhan chat. Nama-nama perempuan.
“Rani ❤️ Semarang”
“Tika Sayang”
“Mila Cirebon 💋”
Tangannya gemetar. Ia bukan orang suci. Tapi melihat semua ini… terasa berbeda. Bukan sekadar nakal. Ini… sudah keterlaluan.
… MoreSatu pesan muncul. Baru masuk.
Dari Rani.
Sobirin ragu. Sangat ragu. Tapi… entah kenapa… jarinya membuka.
Dan isi pesan itu membuat napasnya berhenti.
“Mas… aku udah telat 2 bulan. Aku takut…”
Sobirin langsung menutup layar. Jantungnya berdegup kencang.
“Ya Allah…”
Ia menoleh ke arah Indra. Lelaki itu masih fokus mengemudi. Wajahnya datar. Seolah dunia ini sederhana. Padahal… di baliknya… ada bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tak lama kemudian…
Ponsel itu bergetar lagi. Kali ini… panggilan masuk. Nama yang sama.
Rani ❤️ Semarang
Sobirin panik.
“Mas… ini…”
Indra melirik sebentar.
“Angkat aja.”
Nada suaranya santai. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sobirin menelan ludah.
Mengangkat telepon.
“Hallo…?”
Suara di seberang langsung terdengar. Panik. Gemetar.
“Mas Indra?!”
Sobirin terdiam sesaat.
“Ini… saya Sobirin, Mbak…”
Sunyi beberapa detik. Lalu suara itu berubah… semakin panik.
“Mas Indra mana?! Penting banget!”
Sobirin menatap Indra. Indra mengangguk kecil.
“Kasih sini.”
Indra mengambil ponsel.
“Kenapa, Ran?”
Dan dalam beberapa detik…Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya… sejak Sobirin mengenalnya…Indra kehilangan ekspresi tenangnya.
Suara Rani terdengar jelas. Tak ada lagi basa-basi. Tak ada lagi rayuan manja. Hanya satu kalimat… yang menghantam seperti petir di siang bolong:
“Aku hamil, Mas…”
Sunyi. Mesin bus tetap meraung. Tapi bagi Indra… dunia seperti berhenti. “Mas… aku nggak tahu harus gimana… aku sendirian di sini…”
Suara Rani mulai pecah.
“Mas… kamu tanggung jawab kan?”
Indra tidak langsung menjawab. Tangannya mengencang di setir. Mata fokus ke depan. Tapi pikirannya… berantakan. “Aku… nanti ke sana.”
Hanya itu jawaban Indra. Pendek. Dingin. Tapi cukup untuk membuat Sobirin semakin takut. Telepon ditutup.
Sunyi menyelimuti kabin depan. Sobirin tidak berani bicara. Indra juga diam. Namun aura di dalam bus berubah drastis. Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Sobirin memberanikan diri.
“Mas…”
Indra tidak menoleh.
“Ngomong aja.”
Sobirin menarik napas panjang.
“Ini… sudah keterlaluan, Mas.”
Indra langsung menatap tajam.
“Apa maksudmu?” “Mas punya istri…”
“Mas punya Mbak Juleha…”
“Dan sekarang…”
Sobirin menelan ludah.
“…ada yang hamil.”
Rem diinjak sedikit lebih keras. Bus sedikit tersentak.
Beberapa penumpang terbangun. Indra menatap Sobirin. Tatapan yang selama ini jarang ia keluarkan. Dingin. Tajam. Berbahaya. “Jangan ikut campur.”
Suara Indra pelan. Tapi penuh tekanan. Sobirin tidak mundur.
Untuk pertama kalinya… ia melawan.
“Mas… saya ikut perjalanan ini… saya lihat semuanya…”
“Saya diam selama ini… tapi ini beda!”
Indra mengencangkan rahang.
“Ini hidupku.”
Sobirin langsung menjawab:
“Tapi Mbak Juleha juga hidup di dalamnya, Mas!” Kalimat itu… Seperti menampar sesuatu di dalam diri Indra. Namun… bukannya sadar…Ia justru marah. “Cukup, Bir.”
“Jangan bawa-bawa dia.”
Sobirin terdiam. Tapi air matanya hampir jatuh. Bukan karena takut. Tapi karena… kecewa. Sementara itu…
Di Kota T. Juleha sedang menyapu halaman. Langit terlihat mendung. Angin berhembus pelan. Namun hatinya… tidak tenang. Entah kenapa. Ia berhenti. Memegang dadanya. Seolah ada sesuatu yang ingin pecah. “Ya Allah…”
Ia berbisik. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun hatinya… seperti diberi isyarat. Malamnya, Juleha kembali berdiri dalam shalat.
Namun kali ini…Doanya berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. “Ya Allah…”
“Jika ada dosa besar yang dilakukan suamiku…”
“Jangan Engkau hukum dia… sebelum Engkau beri dia kesempatan untuk kembali…”
Air matanya jatuh deras. Untuk pertama kalinya…Ia merasa…Ada sesuatu yang besar… sedang terjadi. Di dalam bus…
Indra tetap mengemudi. Namun pikirannya tidak lagi jernih. Kata-kata itu terus berulang:
“Aku hamil, Mas…”
“Kamu tanggung jawab kan?”
Setiap kilometer terasa lebih berat. Setiap tikungan terasa lebih sempit. Seolah jalan yang dulu ia kuasai…Kini mulai melawannya. Sobirin menatap keluar jendela.
Hatinya kacau. Ia tahu…Ini baru awal. Belum semuanya terbongkar. Belum semuanya meledak. Namun satu hal yang pasti:
“Kalau ini sampai ke Mbak Juleha…”
Semua akan berubah. Tiba-tiba…Langit benar-benar gelap. Hujan turun deras. Jalan menjadi licin. Indra tetap melaju.
Namun kali ini…Tangannya sedikit bergetar. Sobirin melihat itu. Dan untuk pertama kalinya… ia merasa takut. Bukan pada jalan. Bukan pada hujan. Tapi pada…Apa yang akan terjadi setelah ini.