Deru mesin bus malam itu membelah jalan lintas provinsi seperti pisau yang mengoyak sunyi. Lampu-lampu kota mulai memudar, digantikan gelap yang hanya ditemani garis putih di aspal dan suara berat mesin diesel.
Di balik kemudi, duduk seorang lelaki dengan rahang tegas dan mata yang tak pernah benar-benar istirahat. Namanya Indra.
Sopir AKAP yang dikenal di jalur utara hingga selatan. Lulusan SMP. Tak banyak bicara. Tapi hafal jalan lebih dari siapa pun.
Namun… bukan itu yang membuat namanya sering dibicarakan. Melainkan kehidupan yang ia sembunyikan. “Mas Indra… malam ini ke mana lagi?”
Suara itu datang dari bangku sebelahnya. Sobirin namanya.
Kernet setia, sekaligus saksi hidup semua rahasia yang tak pernah Indra akui.
Indra menyeringai kecil.
“Seperti biasa, Bir… jalan.” Sobirin tertawa kecil.
“Jalan… atau ‘jalan-jalan’?”
Indra tidak menjawab. Tapi senyumnya… cukup menjelaskan semuanya.
… MoreIndra bukan sekadar sopir. Ia adalah lelaki dengan “banyak tujuan”. Di Semarang, ada perempuan yang selalu menunggu dengan pesan manja.
Di Surabaya, ada yang menyimpan rindu. Di Cirebon, ada yang percaya Indra hanya miliknya. Dan semua itu… berjalan rapi.
Tanpa tabrakan. Tanpa ketahuan. Setidaknya… selama ini. Namun ada satu tempat… yang selalu ia pulangi.
Sebuah rumah sederhana di pinggiran kota kecil yang orang-orang hanya menyebutnya sebagai Kota T. Di sana… ada seorang perempuan.
Yang tidak pernah menuntut. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah mencurigai. Namanya… Juleha. Juleha bukan wanita kota.
Ia lahir dari keluarga petani sederhana. Ayahnya seorang penggarap sawah, ibunya ibu rumah tangga yang menghabiskan hidup dengan menanam, memasak, dan berdoa.
Namun satu hal yang membuat Juleha berbeda: Ia adalah lulusan pesantren.
Sejak kecil, ia terbiasa bangun sebelum subuh.
Membaca Al-Qur’an sebelum matahari muncul.
Menjaga pandangan.
Menjaga lisan.
Dan menjaga hati. Wajahnya tidak mencolok seperti wanita-wanita yang dikenal Indra di kota. Tapi ada ketenangan di matanya. Ada cahaya yang tak bisa dijelaskan.
Awal Pertemuan yang Tak Disangka
Indra pertama kali bertemu Juleha bukan di jalan.
Bukan di terminal. Bukan di kota besar. Melainkan… di sebuah acara pengajian kecil di kampung. Waktu itu, Indra pulang hanya karena ibunya memaksa.
Orang tua Indra adalah pedagang kecil di pasar Kota T. Hidup sederhana. Jauh dari kemewahan. Ibunya pernah berkata: “Ra… kamu itu hidup di jalan terus. Sekali-kali ikut pengajian, biar hatimu nggak keras.”
Dengan setengah malas, Indra datang. Dan di sanalah… ia melihat Juleha.
Tidak berdandan berlebihan.
Tidak tertawa keras.
Tidak menarik perhatian. Namun… justru itu yang membuat Indra memperhatikannya. “Perempuan ini… beda.”
Untuk pertama kalinya, Indra merasa tertarik bukan karena fisik.
Tapi karena… ketenangan. Beberapa bulan kemudian… mereka menikah. Cepat. Sederhana. Tanpa banyak drama.
Semua orang bilang: “Indra beruntung.”
Tapi tidak ada yang tahu…
bahwa Indra tidak pernah benar-benar berubah.
Malam itu, bus akhirnya masuk terminal. Indra turun, meregangkan tubuhnya. Sobirin menepuk bahunya. “Mas… pulang sekarang?”
Indra mengangguk.
Perjalanan pulang ke rumah hanya 20 menit. Namun bagi Indra… itu seperti masuk ke dunia yang berbeda. Pintu rumah terbuka pelan.
Dan seperti biasa…Juleha sudah menunggu. Dengan senyum. Tanpa keluhan.
“Mas… sudah pulang…”
Suaranya lembut. Hampir seperti doa. Indra hanya mengangguk.
“Capek.”
“Air hangat sudah siap, Mas.”
Tidak ada pertanyaan: “Kamu dari mana?”
“Kok lama?”
“Dengan siapa?” Tidak ada.
Juleha berjalan ke dapur. Menyiapkan makanan. Sederhana. Tapi hangat.
Di balik itu semua… ada sesuatu yang tidak pernah Indra lihat. Juleha tahu. Bukan dari bukti. Bukan dari pesan. Tapi dari… hati.
Ia tahu suaminya tidak sepenuhnya miliknya. Ia tahu… ada perempuan lain di luar sana. Namun ia memilih… diam. Malam semakin larut.
Indra sudah tertidur. Namun Juleha… belum. Ia bangun. Berwudhu. Dan berdiri dalam gelap. Shalat. Dalam sujudnya… ia menangis.
“Ya Allah… jika suamiku jauh dari-Mu… dekatkan dia kembali…”
“Jika dia salah… ampuni dia…”
“Dan jika aku harus bersabar… kuatkan aku…”
Air matanya jatuh ke sajadah. Tanpa suara. Tanpa saksi. Kecuali Tuhan. Sementara itu…
Di kota lain, ponsel Indra bergetar. Satu pesan masuk:
“Mas… aku kangen. Kapan ke sini lagi?”
Nama pengirim: Rani.
Indra membuka mata sebentar. Membaca. Dan… tersenyum.
Ia membalas singkat: “Segera.”
Lalu kembali tidur. Tanpa rasa bersalah. Keesokan harinya, di bus… Sobirin menatap Indra lama.
“Mas…”
“Apa?”
“Sampeyan… nggak takut?”
Indra mengerutkan dahi.
“Takut apa?”
Sobirin menelan ludah.
“Takut kehilangan Mbak Juleha…”
Indra tertawa kecil.
“Dia nggak akan ke mana-mana.”
Jawaban itu… sederhana. Tapi entah kenapa… membuat hati Sobirin tidak tenang. Indra menyalakan mesin. Bus kembali melaju.
Ia melihat ke depan. Ke jalan panjang yang seolah tak ada ujungnya. Dan berkata pelan:
“Hidup ini jalan, Bir… dinikmati saja.”
Sobirin diam. Namun dalam hatinya… ada sesuatu yang berbisik:
“Tidak semua jalan… membawa pulang.” Langit sore itu berubah mendung.
Angin terasa lebih dingin dari biasanya. Di kejauhan… petir menyambar. Indra tetap melaju. Tanpa tahu…Bahwa perjalanan ini…Akan menjadi awal dari sesuatu yang mengubah hidupnya.
Selamanya.