Hari-hari setelah taubat itu… tidak seindah yang Faris bayangkan. Awalnya, ia mengira hidupnya akan langsung terasa ringan. Bahwa setelah ia kembali kepada Allah, semua masalah akan perlahan hilang.
Namun kenyataannya… justru sebaliknya. Pagi itu, Faris datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia ingin memulai hari dengan lebih baik—lebih fokus, lebih disiplin, lebih tenang.
Namun begitu ia membuka laptop…Puluhan email sudah menunggu. Sebagian besar bertanda merah.
URGENT.
Faris menghela napas panjang.
“Bismillah…” gumamnya pelan.
Belum sempat ia membaca semuanya, ponselnya berdering. Atasannya. Faris langsung mengangkat.
“Selamat pagi, Pak.”
“Faris, kamu sudah lihat laporan kemarin?”
“Sudah, Pak.”
“Ini kenapa banyak yang miss? Angka-angkanya nggak masuk semua.”
Faris terdiam sejenak. Ia tahu laporan itu bermasalah. Namun ia tidak menyangka akan langsung dipermasalahkan secepat ini.
“Saya akan perbaiki, Pak.”
“Bukan sekadar perbaiki. Ini harus selesai hari ini. Kita lagi diawasi klien.”
Nada suara atasannya tegas. Tidak memberi ruang.
“Siap, Pak.”
Telepon ditutup. Faris menatap layar laptopnya. Pikirannya mulai tegang. Namun ia mencoba tetap tenang.
“Ini ujian…” bisiknya.
Jam demi jam berlalu. Faris bekerja tanpa henti. Memperbaiki data. Mengulang perhitungan. Mengoreksi kesalahan.Namun tekanan terus datang.
“Ris, ini juga harus dicek ya,” kata salah satu rekan.
“Ris, klien minta revisi lagi.”
“Ris, deadline dimajuin.”
Semua terasa bertubi-tubi.Seolah tidak ada jeda.