Cahaya di Ujung Istiqamah

Pertemuan dengan Guru

Pertemuan dengan Guru

Hari-hari setelah ujian itu, Faris mulai menyadari satu hal: Perubahan tidak hanya membutuhkan niat… tetapi juga arah.

Pagi itu, Faris kembali berangkat kerja seperti biasa. Namun ada sesuatu yang berbeda dari rutinitasnya.

Ia tidak lagi terburu-buru menyalakan ponsel. Ia tidak lagi langsung tenggelam dalam notifikasi. Ia memilih diam sejenak. Menarik napas. Mengatur hati.

Namun di balik itu semua, Faris masih merasa… bingung. Ia sudah mulai salat. Ia sudah mulai menjauhi kebiasaan lama. Ia sudah mencoba bertahan dari godaan.

Namun tetap saja…

Ada pertanyaan yang belum terjawab.

“Gue harus gimana lagi…”

Ia merasa seperti berjalan di jalan yang benar…tapi tanpa peta.

Hari itu, setelah pulang kerja, Faris tidak langsung kembali ke apartemen. Entah kenapa, ia membelokkan mobilnya ke arah yang berbeda. Ke arah masjid yang sama seperti beberapa hari lalu.

Langit sore berwarna jingga. Udara terasa lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Suasana di sekitar masjid cukup ramai, beberapa orang terlihat duduk di teras, sebagian lagi bersiap untuk salat Maghrib. Faris memarkir mobilnya. Lalu turun. Langkahnya kali ini lebih ringan. Tidak seperti pertama kali ia datang.

Ia masuk ke dalam masjid. Duduk di salah satu sudut. Diam. Tidak lama kemudian, azan Maghrib berkumandang.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Faris menutup mata. Mendengarkan.
 

Next Episode