Pagi itu, setelah menunaikan salat Subuh, Faris tidak langsung beranjak. Ia masih duduk di atas sajadahnya.
Diam.
Tenang.
Namun hatinya… bergetar.
Cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela, perlahan menerangi ruangan yang semalam terasa gelap. Udara pagi begitu segar, berbeda dari biasanya yang selalu terasa berat.
Faris menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya… ia merasa hidup. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mulai muncul ke permukaan. Kenangan. Satu per satu.
Tanpa diminta. Tanpa bisa ditahan.
Ia teringat hari-hari ketika ia dengan sengaja meninggalkan salat. Teringat saat ia lebih memilih hiburan dibanding kewajiban. Teringat kata-kata kasar yang pernah ia ucapkan. Teringat kesombongan yang pernah ia banggakan.
Dan semakin ia mengingat…Semakin berat dadanya.
Faris menunduk. Tangannya menggenggam lututnya erat.Napasnya mulai tidak teratur.
“Kenapa gue baru sadar sekarang…”
Air matanya mulai mengalir lagi.Namun kali ini… bukan hanya karena rindu. Melainkan karena penyesalan. Penyesalan yang dalam.
… More“Ya Allah…”
Suaranya bergetar.
“Gue banyak banget salah…”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah. Lebih kuat dari sebelumnya.
“Gue ninggalin shalat…”
“Gue lupa sama Engkau…”
“Gue hidup seolah-olah gue nggak butuh Engkau…”
Setiap kalimat terasa menusuk. Namun ia tidak berhenti.
“Padahal Engkau selalu ada…”
Tangisnya semakin dalam.
“Gue yang pergi…”
Sunyi. Namun di dalam dirinya… badai sedang terjadi. Faris menunduk lebih dalam. Dahinya hampir menyentuh sajadah.
“Masih ada kesempatan nggak buat gue…”
Pertanyaan itu keluar pelan. Namun penuh harap. Ia takut. Sangat takut. Takut jika semua sudah terlambat. Takut jika pintu itu sudah tertutup. Namun di tengah ketakutan itu…
Ia tetap bertahan.
“Kalau masih ada…”
“Gue mau berubah…”
Air matanya membasahi sajadah. Meninggalkan jejak yang tak terlihat… namun terasa. Perlahan, Faris bersujud. Sujud yang berbeda. Bukan sekadar gerakan. Namun pelampiasan seluruh rasa.
“Ya Allah…”
Suaranya lirih.
“Maafin gue…”
Tangisnya kembali pecah.
“Maafin semua dosa gue…”
“Yang gue sengaja…”. “Yang gue nggak sadar…”
Setiap kata keluar dari hati. Tanpa dibuat-buat. Tanpa ditahan.
“Gue lemah…”. “Gue sering jatuh…”
Ia terdiam sejenak. Menarik napas dalam.
“Tapi gue mau kembali…”
Sujud itu terasa lama. Sangat lama. Seolah ia tidak ingin bangkit. Seolah ia ingin tetap di sana. Dekat. Aman.
Di luar, suara kehidupan mulai terdengar. Kendaraan lewat. Orang-orang memulai aktivitas. Namun di dalam ruangan itu…
Waktu terasa berhenti. Hanya ada Faris. Dan Tuhannya.
Perlahan, tangisnya mereda. Napasnya mulai teratur.
Ia masih dalam sujud. Namun kini… hatinya lebih ringan. Beban yang selama ini ia bawa…Perlahan terangkat.
Ia tidak tahu apakah semua dosanya telah diampuni. Namun ia merasakan sesuatu yang baru: Harapan.
Faris perlahan bangkit dari sujudnya. Duduk kembali. Wajahnya basah oleh air mata.
Namun matanya…Lebih jernih.
Ia mengusap wajahnya. Lalu menatap sajadah di depannya.
“Ini awal…”
Ia tersenyum tipis. Namun perjalanan tidak berhenti di situ. Beberapa jam kemudian, Faris kembali ke rutinitasnya. Ia bersiap berangkat kerja.
Namun kali ini… ada perasaan berbeda. Ia tidak lagi merasa sekadar menjalani hari. Namun mencoba menjalani dengan tujuan. Di dalam mobil, Faris tidak menyalakan musik.
Ia memilih diam. Merenung. Namun di tengah ketenangan itu…Sebuah suara muncul.
“Lo yakin bisa berubah?”
Faris terdiam. Suara itu bukan dari luar. Namun dari dalam dirinya.
“Udah berapa kali lo coba… terus balik lagi?”
Ia menelan ludah. “Lo kuat nggak?”
Pertanyaan itu terasa tajam. Faris menggenggam setir lebih erat. Ia tahu…Perjalanan ini tidak akan mudah.
Setelah sampai di kantor, semua kembali seperti biasa.Pekerjaan menumpuk. Meeting berjalan. Target dikejar.
Namun kali ini, Faris mencoba berbeda. Saat waktu Zuhur tiba…Ponselnya kembali berbunyi.
“Waktu Zuhur telah tiba.”
Faris menatap layar itu. Diam. Godaan itu datang lagi.
“Kerjaan lagi banyak…”
“Nanti aja…”
Namun kali ini… Ia tidak langsung menggeser notifikasi itu.Ia menatapnya lebih lama.
Lalu… Ia berdiri.
“Gue izin sebentar ya,” katanya kepada rekan kerjanya.
“Ke mana?” tanya Dika.
“Shalat.”
Dika mengangkat alis. Sedikit terkejut.
“Tumben…”
Faris hanya tersenyum. Ia berjalan menuju mushola kantor. Langkahnya tidak cepat. Namun pasti.
Di dalam mushola, suasana sepi. Hanya beberapa orang. Faris mengambil wudu. Kali ini… lebih yakin. Ia berdiri. Menghadap kiblat.
“Allahu Akbar…”
Shalat itu terasa berbeda dari Subuh tadi. Lebih tenang. Lebih fokus.
Namun di tengah shalat… Satu hal muncul. Kenangan. Tentang dosa. Tentang kesalahan. Tentang masa lalu.
Air matanya kembali jatuh. Namun ia tetap melanjutkan. Setelah selesai, Faris duduk. Diam. Ia menatap lantai.
“Gue masih banyak salah…”
Namun kali ini… Ia tidak tenggelam dalam penyesalan. Ia bangkit.
Karena ia tahu—Taubat bukan tentang menangisi masa lalu saja. Namun tentang memperbaiki masa depan.
Hari itu, Faris pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia tahu perjalanan ini panjang.
Ia tahu ia bisa jatuh lagi. Namun ia juga tahu— Ia tidak sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, Faris kembali mengambil sajadahnya. Ia berdiri.
“Allahu Akbar…”
Dan untuk pertama kalinya… Ia tidak merasa terpaksa.
Ia merasa…
Pulang.
Air matanya kembali jatuh.
Namun kini…
Bukan karena penyesalan. Melainkan karena syukur.
“Terima kasih, ya Allah…”
Bisiknya pelan. Di luar, malam kembali datang. Namun tidak lagi terasa gelap.
Karena di dalam hati Faris…Sebuah cahaya kecil telah menyala.
Cahaya taubat.
Dan ia berjanji…Akan menjaganya. Apa pun yang terjadi.