Cahaya di Ujung Istiqamah

Panggilan Subuh

Panggilan Subuh

Malam itu, Faris pulang dari masjid dengan langkah yang berbeda. Tidak tergesa.Tidak pula berat.

Namun pelan… seolah ia sedang menjaga sesuatu yang rapuh di dalam dirinya. Hujan telah reda. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu kota yang mulai redup. Angin malam berhembus lembut, membawa suasana yang asing bagi Faris—tenang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa sedikit damai. Sesampainya di apartemen, Faris tidak langsung menyalakan televisi seperti biasanya. Ia juga tidak membuka laptop, tidak mengecek email, tidak tenggelam dalam dunia yang selama ini menyibukkannya.

Ia hanya duduk. Diam.

Menatap ruangan yang sama, namun kini terasa berbeda. Di sudut ruangan, ia melihat sesuatu yang hampir ia lupakan. Sebuah sajadah.

Terlipat rapi… namun berdebu.

Faris berdiri perlahan, berjalan mendekat, lalu mengambilnya. Ia menatap sajadah itu lama. Seperti melihat bagian dari dirinya yang dulu.

Tangannya mengusap permukaan kain itu, membersihkan debu yang menempel.

“Udah lama banget ya…” bisiknya.

Ada rasa sesal. Namun juga… rindu. Malam itu, Faris tidak banyak bicara. Tidak juga banyak berpikir. Ia hanya mencoba menjaga perasaan yang baru saja tumbuh—perasaan ingin kembali. Waktu berjalan.

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Biasanya, di jam seperti ini, Faris masih sibuk dengan layar—entah bekerja, menonton, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa arah.

Namun malam ini berbeda. Ia memilih mematikan lampu lebih awal.

 … More

Di atas tempat tidur, Faris memandang langit-langit. Matanya belum terpejam. Pikirannya masih penuh. Namun bukan lagi tentang pekerjaan. Bukan lagi tentang dunia. Ia teringat kejadian sore tadi.

Kecelakaan. Tubuh yang tergeletak. Darah.

Dan satu pertanyaan yang menghantamnya:

“Kalau itu gue…”

Faris menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak. Namun kali ini, ia tidak lari dari perasaan itu. Ia menghadapinya.

“Ya Allah…”

Suaranya pelan. Hampir tak terdengar.

“Gue takut…”

Air matanya kembali mengalir. Namun ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya jatuh.

“Kalau hari ini adalah hari terakhir gue…”

Ia berhenti sejenak. Menelan ludah.

“…gue nggak siap.”

Sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar di ruangan itu. Faris menutup mata.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia berbicara dengan Allah. Bukan dengan hafalan.Bukan dengan kata-kata indah. Namun dengan kejujuran.

“Gue nggak tahu harus mulai dari mana…”

“Gue udah terlalu jauh…”

“Gue banyak salah…”

Suaranya bergetar.

“Tapi… kalau masih ada kesempatan…” “Gue mau coba balik.”

Air mata terus mengalir. Namun di balik itu… ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Malam semakin larut. Faris akhirnya tertidur. Dengan hati yang lelah… namun lebih ringan.

“ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR…”

Suara itu terdengar. Lembut. Namun jelas.Faris membuka matanya perlahan. Ruangan masih gelap. Hanya sedikit cahaya dari luar yang masuk melalui celah tirai.Ia mengerjap.
Bingung. Lalu menyadari sesuatu.Itu suara azan. Subuh. Faris terdiam.Ia menatap langit-langit. Mendengarkan.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Suara itu seperti memanggil. Bukan hanya telinganya.Namun hatinya. Biasanya, di waktu seperti ini, Faris masih terlelap. Atau jika terbangun, ia akan langsung kembali tidur.
Tanpa pikir panjang.
Tanpa rasa bersalah.

Namun kali ini… berbeda. Ia tidak bisa memejamkan mata lagi. Hatinya gelisah.Seolah ada sesuatu yang mendorongnya. Namun juga ada sesuatu yang menahannya.

“Shalat…” bisiknya.

Ia menoleh ke arah jam.

04.45.

Masih ada waktu. Namun tubuhnya terasa berat.Sangat berat.

“Ah… nanti aja…”

Kalimat itu hampir keluar.Refleks. Seperti biasanya.

Namun tiba-tiba—Sebuah bayangan muncul di pikirannya.Tubuh yang tergeletak di jalan.Tak bergerak.Dingin.Faris tersentak.Jantungnya berdegup kencang.

“Kalau gue mati tadi…”

Kalimat itu kembali terngiang. Ia menelan ludah.Tangannya mengepal.

“Gue mau nunggu apa lagi…”

Faris perlahan bangkit dari tempat tidur.Langkahnya berat.Namun ia tetap berdiri.Ia berjalan menuju kamar mandi. Menyalakan keran. Air dingin mengalir.Faris menatap air itu.

Diam.

Sudah lama sekali ia tidak berwudu.Tangannya perlahan menyentuh air. Dingin.Namun menyegarkan.
Ia mulai berwudu. Perlahan. Satu per satu. Seperti mengingat kembali sesuatu yang pernah ia kenal.

Saat air membasuh wajahnya…Faris memejamkan mata.Ada rasa yang sulit dijelaskan. Seperti membersihkan sesuatu yang lebih dari sekadar fisik.
Ia menyelesaikan wudunya.Lalu berdiri sejenak. Menatap dirinya di cermin. Wajah itu masih sama.

Namun matanya…Lebih hidup.

Faris mengambil sajadah yang tadi malam ia bersihkan. Membentangkannya di lantai. Ia berdiri. Menghadap kiblat.

Diam.

Beberapa detik berlalu. Namun Faris tidak langsung bergerak. Ia ragu. Takut.

“Gue masih bisa…?” bisiknya.

Ia menutup mata. Menarik napas dalam.

“Bismillah…”

“Allahu Akbar…”

Takbir itu keluar pelan. Namun terasa sangat berat. Dan sekaligus… sangat ringan. Faris memulai shalatnya.Gerakan demi gerakan. Bacaan demi bacaan. Tidak sempurna. Tidak lancar. Namun tulus.

Saat ia rukuk… Ia merasa kecil.

Saat ia sujud… Ia merasa dekat.

Dan saat dahinya menyentuh sajadah… Air matanya jatuh.

“Ya Allah…”

Ia menangis. Dalam sujudnya. Bukan karena sedih. Namun karena…

Rindu.

Rindu yang selama ini ia abaikan. Rindu yang akhirnya menemukan jalannya pulang.

“Maafin gue…”

Suaranya tertahan.

“Gue terlalu lama ninggalin…”

Tangisnya semakin dalam. Namun kali ini… ia tidak merasa kosong. Ia merasa… didengar. Shalat itu tidak lama. Namun terasa sangat panjang. Saat Faris mengucapkan salam…
Ia tidak langsung bangkit. Ia tetap duduk. Diam. Menikmati perasaan yang belum pernah ia rasakan selama ini.

Tenang. Sangat tenang. Di luar, langit mulai berubah warna. Gelap perlahan memudar. Digantikan cahaya pagi.Faris menatap jendela. Cahaya itu masuk perlahan ke dalam ruangan.
Menyinari wajahnya. Ia tersenyum.Tipis.Namun tulus.

“Ini ya rasanya…”

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Namun ia tahu satu hal—Ia ingin merasakan ini lagi.

Hari itu, Faris tidak kembali tidur. Ia duduk di dekat jendela, memandangi langit pagi. Untuk pertama kalinya, ia menikmati pagi. Tanpa terburu-buru.
Tanpa tekanan. Hanya… hadir.

Ponselnya berbunyi. Notifikasi masuk. Biasanya, itu adalah hal pertama yang ia cek.

Namun kali ini…Ia mengabaikannya. Ia lebih memilih menikmati momen itu. Momen kecil. Namun berarti besar.

Dalam hatinya, Faris berkata:

“Gue nggak tahu sampai kapan gue bisa konsisten…”

“Gue nggak tahu seberapa kuat gue nanti…”

Ia menarik napas dalam.

“Tapi hari ini…”

“Gue mau mulai.”

Cahaya matahari semakin terang. Hari baru dimulai.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Faris merasa hidupnya juga dimulai kembali. Namun ia belum tahu— Bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Bahwa ujian akan datang. Bahwa godaan akan kembali. Namun satu hal telah berubah:

Ia telah melangkah. Dan terkadang…Satu langkah kecil itu… Adalah awal dari segalanya.

Next Episode