Hujan belum berhenti sejak malam sebelumnya.
Pagi itu, langit masih berwarna kelabu. Jalanan kota dipenuhi genangan air, kendaraan bergerak lebih lambat dari biasanya. Namun seperti kebanyakan orang di kota besar, Faris tetap menjalani rutinitasnya.
Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah malam penuh tangis itu hanyalah mimpi. Faris berdiri di depan cermin, merapikan dasinya. Wajahnya kembali terlihat seperti biasa—tenang, profesional, tanpa celah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam dirinya semalam.
Ia menatap matanya sendiri. Kosong.
Namun kali ini… ada sedikit sesuatu yang berbeda. Sebuah kesadaran yang belum hilang. Di meja makan, sarapan sudah tersaji—pesanan dari aplikasi, seperti biasa. Faris duduk, membuka ponselnya, dan mulai scroll tanpa tujuan.
Notifikasi pekerjaan.
Email masuk.
Pesan dari rekan kerja.
Semua berjalan normal.
Terlalu normal. Namun jari Faris berhenti ketika sebuah notifikasi muncul:
“Waktu Subuh telah tiba.”
Ia terdiam. Hanya beberapa detik. Lalu… ia menggeser notifikasi itu. Menghilang. “Ah… nanti aja,” gumamnya pelan. Namun entah kenapa, hatinya terasa sedikit tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang ia abaikan.
… MoreSetelah selesai bersiap, Faris keluar dari apartemennya. Hujan sudah mulai reda, menyisakan udara dingin yang menusuk. Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan mulai berkendara menuju kantor.
Radio menyala otomatis. Namun Faris segera mematikannya. Hari ini, ia tidak ingin suara bising. Jalanan licin. Beberapa kendaraan terlihat berhati-hati. Lampu merah menyala di persimpangan, membuat mobil-mobil berhenti berderet.
Faris memandang ke luar jendela.
Seorang pengendara motor berhenti di sampingnya, mengenakan jas hujan lusuh. Di belakangnya, seorang anak kecil memeluk erat tubuhnya. Mereka tampak sederhana. Namun… hangat.
Faris menelan ludah. Entah kenapa, pemandangan itu terasa menusuk.
Lampu hijau. Kendaraan kembali bergerak. Faris melanjutkan perjalanan. Di kantor, hari itu terasa sangat sibuk. Meeting bertubi-tubi.
Target yang harus dikejar. Diskusi yang tak ada habisnya. Semua berjalan cepat. Namun pikiran Faris… tidak sepenuhnya di sana. “Faris, gimana progress yang kemarin?” tanya atasannya.
“Sudah hampir selesai, Pak,” jawabnya cepat. “Pastikan minggu ini selesai. Kita nggak boleh terlambat.”
“Siap, Pak.”
Percakapan itu berjalan biasa saja. Namun Faris merasa… kosong. Seperti hanya tubuhnya yang bekerja. Pikirannya melayang. Siang hari, Faris duduk sendiri di ruang kerjanya. Laptop terbuka, namun ia hanya menatap layar tanpa benar-benar fokus.
Tiba-tiba, bayangan malam kemarin kembali muncul.
Tangisnya.
Doanya.
Pertanyaannya.
“Ya Allah… kalau Engkau masih mau nerima gue…” Faris memejamkan mata. “Kenapa gue balik lagi kayak gini…” bisiknya. “Bro, makan siang yuk!”
Suara Dika membuyarkan lamunannya. Faris membuka mata. “Ah… iya, bentar.”
Di restoran, suasana ramai. Tawa kembali terdengar. Obrolan ringan mengalir seperti biasa. Namun kali ini, Faris hanya diam. Ia mendengarkan. Mengamati. Dan menyadari sesuatu. Dulu, ia menikmati semua ini. Sekarang… tidak lagi. “Lo kenapa sih, Ris?” tanya Dika. “Dari tadi diem aja.”
“Gapapa,” jawab Faris singkat.
“Masalah kerjaan?”
Faris menggeleng. “Cuma… lagi capek aja.” Dika tertawa kecil. “Ah, lo kurang liburan itu.” Faris tersenyum tipis. Kalau saja masalahnya sesederhana itu. Sore hari, hujan kembali turun.
Lebih deras dari sebelumnya. Langit gelap, meski belum malam. Faris memutuskan pulang lebih awal. Ia merasa lelah. Namun bukan lelah fisik. Mobilnya melaju di tengah hujan deras. Wiper bergerak cepat, berusaha menghalau air yang terus membasahi kaca.
Jalanan mulai macet. Lampu kendaraan memantul di genangan air. Suasana terasa… berat. Faris menarik napas panjang. Pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.
Tentang hidup.
Tentang tujuan.
Tentang kematian.
Tiba-tiba—
Sebuah motor di depannya tergelincir.
“BRAKK!”
Suara benturan keras terdengar. Faris refleks menginjak rem. Mobilnya berhenti mendadak. Jantungnya berdegup kencang. Di depan, seorang pengendara motor terjatuh. Tubuhnya tergeletak di jalan. Beberapa orang mulai berlari mendekat.
Faris membeku. Tangannya masih mencengkeram setir. Napasnya tercekat. “Ya Allah…”
Ia membuka pintu mobil dan berlari keluar, meski hujan deras mengguyur. Orang-orang sudah mengerumuni korban.
“Mas, mas! Denger nggak?”
“Cepat, angkat!”
Faris mendekat. Wajah korban terlihat pucat. Matanya terpejam. Darah… mulai mengalir dari pelipisnya. Faris mundur selangkah.
Kakinya terasa lemas. Pemandangan itu… terlalu nyata. Terlalu dekat. Beberapa orang membantu mengangkat korban ke pinggir jalan. Seseorang memanggil ambulans. Suara sirine mulai terdengar dari kejauhan.
Namun bagi Faris, waktu seolah berhenti. Ia menatap tubuh itu.
Diam. Tak bergerak.
Dan tiba-tiba— Sebuah pikiran menghantamnya keras.
“Kalau itu gue…”
Faris menelan ludah. Tangannya gemetar. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kalau gue yang barusan jatuh…” “Kalau gue yang barusan mati…”
Ia tidak sanggup melanjutkan pikirannya.Hujan terus turun. Namun Faris tidak merasakannya lagi.
Ia hanya berdiri, terpaku, menatap kenyataan yang selama ini ia abaikan. Bahwa hidup… bisa berakhir kapan saja.
Tanpa peringatan. Tanpa persiapan.
Ambulans datang. Korban segera dibawa. Kerumunan mulai bubar. Lalu lintas kembali berjalan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun tidak bagi Faris. Ia kembali ke mobilnya.Duduk.Diam.Tangannya masih gemetar.
Mesin mobil menyala.Namun ia tidak langsung bergerak.Ia menunduk.Menatap tangannya sendiri.
“Gue belum siap…”
Kalimat itu keluar pelan. Namun terasa sangat berat.
“Gue belum siap ketemu Allah…”
Air matanya mulai jatuh. Semua kesuksesan yang ia banggakan…Semua hal dunia yang ia kejar…
Tiba-tiba terasa tidak berarti. Apa gunanya semua itu…
Jika ia pergi tanpa membawa apa-apa?
Faris menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah.
Di dalam mobil.Di tengah hujan.Di tengah kota yang tidak peduli.
“Ya Allah…” Suaranya bergetar.
“Gue takut…”
Untuk pertama kalinya, rasa takut itu benar-benar nyata. Bukan takut kehilangan dunia. Tapi takut kehilangan akhirat. Beberapa menit berlalu. Tangisnya perlahan reda.
Faris menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah. Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda.Bukan lagi kosong.
Bukan lagi hampa. Tapi… sadar. Ia menyalakan lampu sein. Perlahan, mobilnya kembali bergerak. Namun kali ini, arah hidupnya… mulai berubah.
Di tengah perjalanan, hujan mulai mereda. Langit masih gelap, namun sedikit cahaya mulai terlihat.Seperti harapan kecil yang muncul di balik ketakutan.
Faris melirik jam di dashboard. Waktu menunjukkan menjelang Maghrib. Ia terdiam. Lalu berkata pelan:
“Gue nggak mau telat lagi…” Mobilnya berbelok.
Bukan ke arah apartemen. Tapi ke arah yang berbeda. Ke arah masjid terdekat. Langkah itu mungkin kecil. Namun bagi Faris…Itu adalah langkah terbesar dalam hidupnya.
Di kejauhan, suara azan mulai terdengar.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Faris memejamkan mata sejenak. Air matanya kembali jatuh. Namun kali ini… bukan karena takut. Melainkan karena harapan.
Mungkin…Masih ada waktu.