Cahaya di Ujung Istiqamah

Jalan yang Tersesat

Jalan yang Tersesat

Malam itu, hujan turun tanpa henti, seolah langit sedang menumpahkan seluruh beban yang dipendamnya. Di balik jendela kaca sebuah apartemen mewah di tengah kota, Faris berdiri diam. Lampu-lampu gedung tinggi berpendar seperti bintang buatan manusia, indah namun terasa dingin.

Di tangannya, segelas kopi yang sudah lama kehilangan hangatnya. Sama seperti hatinya.

Faris adalah sosok yang sering dijadikan contoh oleh banyak orang. Di usia yang masih muda, ia sudah berhasil meniti karier di sebuah perusahaan teknologi ternama. Gaji besar, kendaraan mewah, apartemen eksklusif—semua yang diimpikan banyak orang telah ia miliki.

Namun malam itu, untuk kesekian kalinya, ia merasa kosong. Bukan sekadar lelah. Bukan pula sekadar bosan. Tapi hampa—seperti ada bagian dalam dirinya yang hilang dan tak pernah kembali.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Wajahnya tampak rapi, tapi matanya… lelah.

“Kenapa ya…” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

 … More

Beberapa jam sebelumnya, Faris berada di sebuah kafe bersama rekan-rekannya. Tawa memenuhi ruangan, obrolan ringan mengalir tanpa henti. Mereka membahas proyek, target, bonus, dan rencana liburan.

“Bro, hidup lo enak banget sih,” kata Dika, salah satu rekannya. “Gaji gede, kerja santai, cewek juga banyak yang naksir.”

Faris hanya tersenyum tipis.

“Enak ya?” balasnya pelan.

“Iya lah! Apa lagi coba yang kurang?”

Faris tidak menjawab. Ia hanya meneguk kopinya, mencoba menelan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Yang kurang… adalah ketenangan.  Namun kalimat itu terlalu berat untuk diucapkan di tengah tawa yang riuh.

Pukul 11 malam, Faris memutuskan pulang lebih dulu. Hujan mulai turun deras saat ia melangkah keluar dari kafe. Ia membuka pintu mobilnya, masuk, dan menyalakan mesin.

Di dalam mobil, suasana sunyi.

Tidak ada musik. Tidak ada suara.

Hanya suara hujan yang menghantam kaca mobil.

Ia menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata sejenak.

Dan tiba-tiba, sebuah kenangan muncul.

Kenangan lama. Sangat lama.

Saat ia masih kecil. “Faris, ayo salat Maghrib dulu!”

Suara ibunya terdengar lembut dari ruang tengah.

Faris kecil berlari dengan riang menuju kamar mandi untuk berwudu. Setelah itu, ia berdiri di samping ayahnya, mengikuti setiap gerakan salat dengan penuh khusyuk, meski belum sepenuhnya paham.

Setelah selesai, ibunya tersenyum.

“Anak sholeh…”

Ayahnya mengusap kepalanya.

“Hidup itu bukan cuma soal dunia, Nak. Jangan lupa Allah.”

Faris kecil mengangguk, meski saat itu ia belum benar-benar mengerti.

“Tok! Tok!”

Suara klakson dari belakang membuyarkan lamunannya. Lampu hijau sudah menyala.

Faris tersadar, menginjak pedal gas, dan melanjutkan perjalanan.

Namun kenangan itu belum pergi.

Justru semakin jelas. Dulu, ia tidak pernah meninggalkan salat.

Dulu, ia hafal beberapa surat pendek.

Dulu, ia merasa tenang setiap kali mendengar azan.

Tapi sekarang?

Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali salat tepat waktu.

Atau… apakah ia masih salat sama sekali?

Faris menggenggam setir lebih erat.

Hatinya terasa sesak. Mobilnya melaju di jalanan yang basah. Lampu-lampu kota memantul di permukaan aspal, menciptakan pemandangan yang indah namun sendu.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.

Sebuah notifikasi. “Reminder: Meeting besok jam 08.00”

Ia menghela napas. Hidupnya penuh dengan jadwal, target, dan angka.

Tapi kosong dari makna. Sesampainya di apartemen, Faris langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia tidak menyalakan lampu. Hanya cahaya dari luar yang masuk melalui jendela.

Ruangan itu luas, modern, dan mahal. Namun terasa… sepi.  Ia menatap langit-langit. Lalu, tanpa sadar, ia berkata pelan:

“Gue capek…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena tekanan.

Tapi karena hidup tanpa arah. Hujan semakin deras.

Angin berhembus, membuat tirai jendela bergoyang pelan.

Faris bangkit, berjalan mendekati jendela, dan membuka sedikit.

Udara dingin langsung menyentuh wajahnya.

Segar. Namun juga menusuk.  Ia memandang ke bawah—jalanan kota yang tak pernah benar-benar tidur. Orang-orang masih berlalu-lalang. Kendaraan terus bergerak.

Semua terlihat sibuk. Seperti dirinya. Namun untuk apa?

Illustration Bottom

Di tengah suara hujan, tiba-tiba terdengar sesuatu yang samar. Sangat samar. Namun cukup jelas untuk membuat Faris terdiam. Suara azan. Dari sebuah masjid yang entah di mana.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Faris terpaku.

Sudah lama sekali ia tidak benar-benar mendengarkan azan.

Biasanya, suara itu hanya lewat begitu saja—seperti angin.

Namun malam ini… berbeda.

Suara itu terasa… memanggil. Hatinya bergetar.

Entah kenapa.  Ia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa takut. Bukan takut kehilangan pekerjaan. Bukan takut gagal.

Tapi takut… kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting. “Kalau gue mati sekarang…”. Kalimat itu muncul di kepalanya.  “…gue siap nggak?”

Sunyi.

Tidak ada jawaban. Dan justru itu yang membuatnya semakin gelisah. Faris membuka mata. Napasnya sedikit berat. Ia menatap dirinya sendiri di kaca jendela sekali lagi. Kali ini, bukan sebagai pria sukses. Tapi sebagai seseorang yang tersesat. Hujan masih turun.

Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai bergerak. Kecil. Hampir tak terasa. Namun nyata. Sebuah pertanyaan.  Sebuah keresahan. Sebuah panggilan. 

Faris perlahan duduk di lantai, bersandar pada dinding. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Namun satu hal yang ia tahu— Ia tidak ingin terus seperti ini. “Ya Allah…”

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menyebut nama itu. Pelan. Ragu. Namun tulus. “…kalau Engkau masih mau nerima gue…” Suaranya bergetar. “…tolong kasih gue jalan.”

Air matanya jatuh. Satu. Dua. Lalu semakin banyak. Malam itu, di tengah hujan dan kesunyian, Faris tidak menemukan jawaban.

Namun ia menemukan sesuatu yang lebih penting: Kesadaran. Bahwa ia telah tersesat. Dan mungkin… Sudah waktunya untuk pulang.

Next Episode