Takdir yang Memaksa

Sebelum Mereka Menjadi “Kita”

Sebelum Mereka Menjadi “Kita”

Langit sore itu redup.

Bukan karena hujan akan turun, tapi karena matahari seperti malas untuk bersinar lebih lama. Warna jingga menggantung di ujung langit, seolah menahan sesuatu yang belum selesai.

Di halaman rumah besar itu, kursi-kursi sudah disusun rapi. Tenda berdiri kokoh. Lampu-lampu kecil mulai dinyalakan satu per satu.

Orang-orang menyebutnya persiapan bahagia.  Namun tidak semua hati di tempat itu… ikut merayakan. Di dalam kamar, Shinta duduk di tepi ranjang.

Gaun putih tergantung di dekat jendela. Halus. Indah. Sempurna. Tidak seperti perasaannya.

Di tangannya… ada sebuah amplop tua.

Sudah kusut di bagian sudut. Bekas sering dibuka, tapi tidak pernah benar-benar selesai dibaca tanpa air mata. Ia membuka perlahan.  Tulisan tangan itu masih sama.  

“Shinta…
Kalau suatu hari Ayah tidak ada…
percayalah, pilihan Ayah bukan untuk menyakitimu.”

Tangannya bergetar.  Ia tidak melanjutkan membaca. Tidak karena tidak tahu isinya. Tapi karena terlalu tahu. Suara dari luar terdengar.

“Shin… sudah siap?”

Ibunya. Lembut. Tapi hari ini terdengar seperti desakan. 

“Sebentar, Bu…”

Jawaban Shinta pelan. Ia melipat surat itu kembali. Menaruhnya di dalam laci. Seolah dengan begitu… ia juga bisa menyimpan perasaannya. Namun perasaan tidak seperti kertas. Tidak bisa disimpan.

 … More

Di sisi lain kota, di sebuah rumah yang lebih besar… lebih megah… Heri berdiri di depan cermin.  Jasnya sudah rapi. Rambutnya tertata. Segalanya terlihat siap. 

Kecuali dirinya. 

Ia menatap bayangannya sendiri. Lama. Seolah sedang mencari seseorang. “Cepat sedikit, Heri.”

Suara ayahnya dari luar. Tegas. Tanpa ruang untuk menolak. 

“Iya, Yah…”

Jawaban itu otomatis. Seperti kebiasaan. Heri menarik napas panjang. Di belakangnya, pintu terbuka. Ibunya masuk. 

“Sudah siap?” 

Heri mengangguk. Ibunya mendekat.  Merapikan kerah jasnya. 

“Ini yang terbaik…” 

Kalimat itu…Sering ia dengar. Namun hari ini… Tidak terasa meyakinkan.

 

Di ruang keluarga, suara percakapan terdengar. 

“Kakaknya dulu umur segini sudah pegang proyek sendiri.” 

“Kalau Heri…” 

Suara itu berhenti. Namun tidak perlu dilanjutkan. Heri sudah hafal kelanjutannya. Tidak seperti kakaknya. Tidak cukup baik. Tidak cukup kuat. Dan hari ini…

Ia akan menjadi suami.  Ironis.

Mereka pernah bertemu. Sekali. Di ruang tamu. Dengan orang tua masing-masing.

Dengan teh manis dan kue yang tidak ada yang benar-benar ingin dimakan.

 “Ini Shinta.”

“Ini Heri.” 

Senyum. Basa-basi. Pertanyaan ringan. Tidak ada percakapan yang berarti. Namun keputusan sudah dibuat.  Bukan oleh mereka. 

Lampu-lampu semakin terang. Tamu mulai berdatangan. Suara tawa terdengar. Namun di balik semua itu…Ada dua hati yang berjalan ke arah yang sama…Tanpa pernah benar-benar memilih jalan itu.

 

Shinta duduk di depan cermin. Make up sudah selesai. Hijab terpasang rapi. Ia terlihat seperti pengantin. Namun di matanya…Tidak ada kilau yang biasanya ada. 

“Cantik sekali…” 

Salah satu sepupunya berkata. Shinta tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke hati. 

Sementara Heri duduk di kursi akad. Orang-orang di sekitarnya berbicara. Namun suaranya seperti jauh.  Ia hanya mendengar satu hal di kepalanya: “Apakah aku bisa?” 

Namun tidak ada yang menjawab. 

Ijab kabul diucapkan. Lancar. Tepat. Sah. Tepuk tangan.

Ucapan selamat. Doa. Semua terasa cepat….bahkan terlalu cepat. 

Saat mereka duduk berdampingan…Akhirnya…Untuk pertama kalinya hari itu…Mereka benar-benar melihat satu sama lain. 

Tidak ada orang tua. Tidak ada tamu. Tidak ada suara lain. Hanya mereka. Dan satu kenyataan: Mereka sekarang terikat. Tanpa benar-benar saling mengenal. Tidak ada yang tahu…

Bahwa Shinta pernah bermimpi hidup berbeda. Bahwa ia ingin menyelesaikan studinya. Bahwa ia ingin memilih sendiri.

Tidak ada yang tahu…

Bahwa Heri sering merasa tidak cukup. Bahwa ia takut gagal. Bahwa ia tidak pernah percaya pada dirinya sendiri.

Dan sekarang…

Dua ketakutan itu…Disatukan.

Malam Pertama yang Sunyi. Kamar itu rapi. Tempat tidur sudah dihias. Lampu redup.Segalanya terlihat sempurna.

Namun tidak ada yang tahu…Bahwa di dalamnya…Tidak ada percakapan.

Heri duduk di kursi.Shinta di tepi ranjang.

Jarak di antara mereka…Tidak jauh.Namun terasa sangat jauh.

“Capek ya…”

Heri akhirnya berkata.

“Iya…”

Shinta menjawab. Dan itu saja.

Tidak ada lanjutan.

Di dalam satu ruangan… Ada dua orang.

Dengan ketakutan yang berbeda, harapan yang berbeda, dan masa lalu yang belum selesai

Namun sekarang…Mereka harus belajar…

Menjadi “kita”.

Di luar…Langit gelap. Bintang-bintang mulai muncul.Namun tidak semua hal indah…Terlihat dari awal.Beberapa hal…Butuh waktu. Atau mungkin…Butuh luka.

Di dalam kamar itu…Shinta berbaring. Menghadap ke arah lain. Heri duduk lama. Menatap lantai. Dan di antara mereka… Ada satu hal yang sama: Mereka tidak tahu… Bagaimana cara menjalani ini.

Namun mereka tahu satu hal:Tidak ada jalan kembali.