Aku pikir itu cuma sekali. 300 ribu itu… cuma kebetulan. Aku bahkan sempat meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi.
Tapi kenyataannya… manusia seringkali lebih lemah dari yang dia kira. Pagi itu, aku membuka rekeningku lagi.
Saldo itu masih ada…..Utuh. Nyata. Dan tidak ada yang terjadi.
Tidak ada telepon.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada masalah. Seolah-olah… tidak ada dosa yang dilakukan. Di kantor, aku duduk seperti biasa.
Tapi kali ini berbeda. Aku tidak lagi melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang penting. Aku melihatnya sebagai… sesuatu yang bodoh. “Ngapain gue capek-capek kerja 8 jam…” gumamku pelan, “kalau 10 menit aja bisa dapet segitu?”
Kalimat itu keluar begitu saja. Dan sejak saat itu… aku tahu, ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
… More“Gimana, ketagihan?” suara Ardi tiba-tiba muncul dari belakangku. Aku kaget.
“Apaan sih?”
Dia tertawa kecil.
“Udah coba kan?” Aku diam. Itu sudah cukup sebagai jawaban. Ardi menarik kursi dan duduk di sebelahku.
“Berapa dapet?”
“…300 ribu.”
Dia mengangguk pelan.
“Lumayan buat pemula.” Pemula. Kata itu terasa aneh. Seolah-olah… aku baru saja masuk ke sebuah dunia baru. “Lo tahu nggak?” lanjutnya, “ini tuh bukan soal nipu atau nggak.”
Aku menoleh.
“Ini soal… siapa yang lebih cepat.”
“Cepat?”
“Iya. Lo ambil keputusan cepat, orang transfer cepat. Selesai.”
Dia berhenti sebentar.
“Kalau lo kebanyakan mikir… ya lo kalah.”
Kalimat itu… lagi-lagi menancap. Dan tanpa kusadari…Aku mulai membenarkan semuanya. Malam itu, aku membuka akun palsuku lagi. Kali ini… bukan karena penasaran. Tapi karena ingin.
Aku mulai lebih serius. Mengganti foto profil.
Membuat caption lebih meyakinkan.
Menambahkan testimoni palsu. Aku bahkan membuat cerita… seolah-olah aku penjual terpercaya. Padahal… semuanya bohong. Notifikasi pertama masuk.
“Mas, ready?”
Aku tersenyum tipis.
“Iya, ready.”
Yang kedua.
“Mas, bisa nego?”
“Bisa, Kak.”
Yang ketiga.
“Kalau ambil dua, dapat diskon?”
“Bisa banget.”
Dalam satu jam…Aku mendapat 3 transfer. Total: 850 ribu. Tanganku tidak lagi gemetar. Tidak ada rasa takut seperti kemarin. Yang ada justru…
Rasa puas. Aku mulai tertawa kecil sendiri.
“Gampang banget…”
Hari berikutnya, aku melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dalam seminggu…Totalnya sudah lebih dari 5 juta. Aku mulai berubah.
Pelan-pelan… tapi pasti. Aku tidak lagi makan di warung murah.
Aku mulai pesan makanan mahal. Aku beli sepatu baru. Aku bahkan mentraktir Ardi. “Gue bilang juga apa,” kata Ardi sambil tersenyum puas.
“Lo bakal ngerti.”
Aku mengangguk. Tapi di dalam hatiku… ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak hanya “mengerti”. Aku mulai menikmatinya. Dan itu… jauh lebih berbahaya. Suatu malam, aku sedang mengecek chat. Ada satu pesan yang berbeda. Tidak seperti yang lain.
“Mas, ini beneran ya barangnya? Saya kumpulin uangnya lama…”
Aku berhenti. Mataku membaca ulang kalimat itu. Perlahan.
“Saya kumpulin uangnya lama…”
Entah kenapa…Dadaku terasa sedikit sesak. Aku tidak langsung membalas. Untuk pertama kalinya… aku ragu.
“Kenapa?” tanya Ardi lewat chat.
Aku screenshot pesan itu dan kirim ke dia. Beberapa detik kemudian, dia membalas:
“Lo jangan baper.”
Aku menarik napas panjang. Menatap layar. Menatap kalimat itu lagi.
“Saya kumpulin uangnya lama…”
Lalu aku mengetik:
“Iya, Kak. Barang asli. Siap kirim hari ini.”
Beberapa menit kemudian… Transfer masuk.
500 ribu.
Aku menatap angka itu. Lama. Kali ini… tidak ada rasa senang.Tidak seperti sebelumnya.
Yang ada hanya…Diam. Dan untuk pertama kalinya…Aku mencoba membayangkan…Siapa orang di balik layar itu.
Apakah dia bekerja keras setiap hari?
Apakah dia menabung sedikit demi sedikit?
Apakah uang itu penting untuknya?
Aku menggeleng cepat.
“Ngapain gue mikirin beginian…”
Aku langsung menghapus chat itu. Menghapus jejak.Menghapus rasa. Dan aku berhasil. Untuk sementara.
Beberapa hari kemudian…Aku sudah kembali seperti biasa. Atau lebih tepatnya… Lebih parah dari sebelumnya.
Aku mulai menaikkan harga. Mulai lebih agresif. Mulai menargetkan orang-orang tertentu. Aku belajar membaca cara orang berbicara.
Cara mereka bertanya.Cara mereka percaya.Dan aku memanfaatkannya.Tanpa ragu. Tanpa rasa bersalah.
Sampai suatu malam…Sebuah pesan masuk.
“Mas, tolong jangan tipu saya ya…”
Aku terdiam. Pesan itu sederhana.Pendek.Tapi…Entah kenapa terasa berat.
“Ini uang terakhir saya.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Untuk beberapa detik… Aku tidak bergerak.
Seolah-olah…Ada sesuatu yang mencoba menghentikanku.
Tapi kemudian…Suara lain muncul.
“Lo udah sejauh ini.”
“Satu orang lagi nggak akan beda.”
“Ini cuma transaksi.”
Tanganku bergerak. Pelan. Pasti.
“Iya, Kak. Tenang saja.”
Beberapa menit kemudian…Transfer masuk. 1 juta rupiah. Aku menatap layar. Lama.
Tidak ada senyum. Tidak ada rasa bangga. Hanya…Sepi.
Dan malam itu…Untuk pertama kalinya…Aku tidak bisa menikmati uang yang aku dapatkan.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu apa yang berubah. Tapi aku mulai merasakan sesuatu…Yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Bukan takut. Bukan juga penyesalan. Tapi…Retak kecil di dalam hati.
Dan aku tidak tahu…Bahwa retakan itu…Akan segera menghancurkan semuanya.