Kami Berpisah Saat Sama-Sama Butuh

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Langit sore itu tampak biasa saja.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada tanda-tanda bahwa hari itu akan mengubah hidupku.

Aku hanya duduk di sudut sebuah kafe kecil, membuka laptop, mencoba menyelesaikan pekerjaan yang sejak pagi tak kunjung selesai. Jemariku mengetik pelan, lalu berhenti. Menatap layar kosong. Lagi.

Sudah beberapa hari ini aku seperti kehilangan arah.

Bukan karena pekerjaanku sulit. Tapi karena hatiku… entah kenapa terasa berat.

Aku menghela napas panjang.

“Kenapa ya…” gumamku pelan.

Di luar, orang-orang berlalu-lalang. Sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Seolah dunia tetap berjalan normal, sementara aku tertinggal di tempat.

Aku menutup laptop.

Hari ini bukan hari untuk bekerja.

Saat itulah pintu kafe terbuka.

Dan dia masuk.

Aku tidak langsung menyadari siapa dia.

Hanya sekilas, sosok perempuan dengan jilbab sederhana, wajah lelah tapi tetap tenang. Dia berdiri di dekat pintu, seperti ragu memilih tempat duduk.

Aku kembali menunduk.

Biasa saja, pikirku.

Sampai beberapa detik kemudian…Suara itu.

“Mas… kursi di sini kosong?”

Aku menoleh. Dan dunia seakan berhenti.

Dia. Nadia.

 … More

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tidak, ini bukan sekadar cepat. Ini seperti… mengingat sesuatu yang pernah aku paksa lupakan.

Wajahnya masih sama.

Mata itu… masih menyimpan keteduhan yang dulu pernah membuatku merasa pulang.

Aku terdiam beberapa detik, terlalu lama mungkin, sampai dia kembali bertanya.

“Mas?”

Aku tersadar.

“Oh… iya, silakan.”

Suara ku terdengar canggung.

Dia tersenyum kecil, lalu duduk di hadapanku.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Kami kembali berada di satu meja.

“Udah lama ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk.

“Iya… lama banget.”

Hening.

Aneh rasanya.

Dulu, kami bisa bicara berjam-jam tanpa kehabisan topik. Sekarang… untuk memulai satu kalimat saja terasa berat.

Aku menatap tangannya.

Tidak ada cincin.

Entah kenapa, aku menyadarinya tanpa sengaja.

“Kamu… gimana kabarnya?” tanyaku akhirnya.

“Baik,” jawabnya singkat.

Lalu dia tersenyum.

“Tapi kayaknya kamu nggak baik-baik aja.”

Aku tertawa kecil, hambar.

“Keliatan ya?”

Dia mengangguk pelan.

“Kamu masih sama. Kalau lagi banyak pikiran, wajahmu langsung ketahuan.”

Aku menunduk.

Ternyata… dia masih ingat.

“Dan kamu?” tanyaku balik.

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya memandang ke luar jendela.

Beberapa detik.

“Baik juga,” katanya akhirnya.

Tapi entah kenapa… jawabannya terasa tidak jujur.

Pelayan datang.

Dia memesan teh hangat.

Aku kembali membuka laptop, hanya untuk terlihat sibuk. Padahal pikiranku sudah tidak di sana.

Aku tahu, pertemuan ini bukan kebetulan.

Atau mungkin… aku hanya terlalu ingin percaya bahwa tidak ada yang kebetulan.

“Masih kerja di tempat yang sama?” tanya Nadia.

“Iya.”

“Masih lembur terus?”

Aku tersenyum tipis.

“Masih.”

Dia tertawa kecil.

“Dulu aku sering marahin kamu soal itu.”

Aku mengangguk.

“Iya… kamu bilang aku lebih cinta kerjaan daripada…”

Aku berhenti.

Tidak melanjutkan kalimat itu.

Dia juga diam.

Kami sama-sama tahu kelanjutannya.

“…daripada kamu.”

Suasana kembali hening.

Tapi kali ini bukan hening yang canggung.

Lebih seperti… hening yang penuh kenangan.

“Udah berapa lama?” tanyanya tiba-tiba.

“Apanya?”

“Kita nggak ketemu.”

Aku berpikir sejenak.

“Tiga tahun… mungkin.”

Dia mengangguk.

“Tiga tahun…”

Seolah mengulang angka itu dalam hatinya.

Tiga tahun.

Tiga tahun sejak kami memilih jalan masing-masing.

Tiga tahun sejak kami memutuskan bahwa… kami tidak bisa bersama.

Flashback itu datang tanpa diundang.

Hari ketika kami berdiri berhadap-hadapan.

Dengan mata yang sama-sama lelah.

Dengan hati yang sama-sama penuh.

Dan dengan keputusan yang sama-sama berat.

“Kita capek ya…” katanya waktu itu.

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu… dia benar.

Kami bukan tidak saling mencintai.

Justru sebaliknya.

Kami terlalu saling membutuhkan.

Dan mungkin… itu yang membuat semuanya jadi berat.

Aku kembali ke masa sekarang.

Menatap Nadia yang kini duduk di hadapanku.

Masih orang yang sama.

Tapi juga… terasa berbeda.

“Kamu…” aku ragu.

Tapi akhirnya tetap bertanya.

“Udah nikah?”

Dia menatapku.

Beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Belum.”

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Tanpa sempat aku tahan.

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya memainkan ujung jilbabnya.

“Kamu?”

Aku tersenyum.

“Belum juga.”

Kami tertawa kecil.

Aneh.

Lucu, tapi juga… menyakitkan.

“Padahal dulu kita bilang…” katanya pelan.

Aku menatapnya.

“Kalau kita nggak sama-sama… kita harus bahagia masing-masing.”

Aku menelan ludah.

“Iya…”

“Tapi ternyata…” lanjutnya.

Dia tidak melanjutkan.

Aku tahu.

Dia tidak perlu melanjutkan.

Ternyata tidak semudah itu.

Pelayan datang membawa teh.

Nadia mengucapkan terima kasih, lalu meniup pelan uap panas dari cangkirnya.

Aku memperhatikannya.

Gerakan kecil itu.

Dulu… aku hafal semua kebiasaannya.

Dan sekarang… semuanya terasa kembali.

“Kamu berubah,” kataku tiba-tiba.

Dia mengangkat alis.

“Berubah gimana?”

“Lebih tenang.”

Dia tersenyum.

“Mungkin karena aku udah capek.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi terasa dalam.

“Capek sama apa?” tanyaku.

Dia menatapku.

Langsung ke mata.

“Capek berharap.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… seperti menampar sesuatu di dalam diriku.

“Dulu aku kira…” lanjutnya pelan.

“Kalau kita cukup sabar, semuanya akan baik-baik aja.”

Aku menggenggam tanganku sendiri di bawah meja.

“Tapi ternyata…” dia tersenyum pahit.

“Kadang sabar itu bukan buat mempertahankan.”

Aku menatapnya.

“Terus?”

Dia menarik napas.

“Kadang… sabar itu buat melepaskan.”

Aku tidak bisa menjawab.

Karena aku tahu…

Dia benar.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Langit mulai gelap.

Lampu-lampu kota menyala.

Dan kami masih di sana.

Duduk.

Berbicara.

Tentang hal-hal kecil.

Tentang hidup.

Tentang masa lalu.

Sampai akhirnya…

Dia melihat jam.

“Aku harus pulang.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Kami berdiri bersamaan.

Dia merapikan tasnya.

Aku membayar tanpa banyak bicara.

Seperti refleks.

Seperti dulu.

Di depan kafe, kami berhenti.

Tidak langsung berpisah.

Seolah ada sesuatu yang masih tertahan.

“Senang ketemu kamu,” katanya.

Aku tersenyum.

“Aku juga.”

Hening.

Sekali lagi.

“Jaga diri ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk.

“Kamu juga.”

Dia berbalik.

Melangkah pergi.

Perlahan.

Aku berdiri di sana.

Tidak bergerak.

Menatap punggungnya yang semakin jauh.

Dan entah kenapa…

Hatiku terasa penuh.

Bukan karena aku bahagia.

Bukan juga karena aku sedih.

Tapi karena…

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku menyadari satu hal.

Kami belum selesai.

Bukan karena kami masih bersama.

Tapi karena…

Kami belum benar-benar melepaskan.

Dan mungkin…

Ini baru awal.