Astaghfirullah… Badrun Lagi!

Operasi Sandal Hilang Berjamaah

Operasi Sandal Hilang Berjamaah

Subuh di Pondok Al-Hikmah selalu dimulai dengan dua hal:
suara ayam yang kepagian… dan suara kentongan yang lebih galak dari ustadz.

“TEK! TEK! TEK! BANGUN! SHOLAT!”

Santri-santri langsung gelagapan.

Ada yang bangun sambil jalan miring.
Ada yang salah pakai sarung (depan belakang ketukar).
Ada juga yang masih setengah mimpi tapi sudah duduk di saf.

Di tengah kekacauan itu…

ada satu kamar yang justru tidak panik sama sekali.

Kamar nomor 7.

Isinya dua makhluk yang kalau Subuh selalu punya “agenda tersendiri.”

Badrun… dan Boni.

“Bonn… bangun,” bisik Badrun.

Boni membuka satu mata. “Udah adzan belum?”

“Udah.”

“Berarti… kita tidur lagi lima menit.”

“Bukan itu.”

Badrun mendekat, wajahnya serius.
Serius banget.

Yang kenal Badrun tahu—
kalau dia serius, berarti ada masalah.

Atau… ada rencana.

“Operasi dimulai hari ini,” bisiknya.

Boni langsung duduk.

“Operasi apa lagi?!”

Badrun menyeringai.
“Operasi… Sandal Hilang Berjamaah.”

Sunyi.

Boni menatapnya kosong.
“...hah?”

 … More

Rencana Paling Tidak Penting Sedunia

“Gini,” kata Badrun sambil jongkok seperti intelijen.
“Kita sembunyiin sandal semua santri di depan masjid.”

Boni langsung melongo.

“Semua?!”

“Iya.”

“Buat apa?!”

Badrun mengangkat jari.
“Untuk eksperimen sosial.”

“...”

“Gue pengen lihat reaksi manusia ketika kehilangan sandal setelah ibadah.”

Boni mengusap wajahnya.

“Badrun… itu bukan eksperimen sosial. Itu cari masalah.”

“Justru itu menarik.”

“Yang kena marah siapa?”

“Kita.”

“NAH ITU!”

Badrun menepuk bahu Boni.
“Tenang. Kita jalankan dengan profesional.”

Boni menatap kosong.

“Profesional… nyusahin orang?”

Eksekusi Dimulai

Beberapa menit kemudian, mereka sudah di luar kamar.

Santri-santri mulai bergerak ke masjid.

Sandal-sandal berjejer rapi di depan.

Dan di situlah…

mata Badrun berbinar.

“Target terkunci,” bisiknya.

“Badrun… jangan ya…”

“Bismillah.”

Dan… dimulailah.

Satu per satu sandal diambil.
Ada yang dipindah ke belakang pohon.
Ada yang disusun di balik tembok.
Ada yang dikumpulin jadi satu di pojok gelap.

Boni ikut bantu—
lebih tepatnya: terseret keadaan.

“Ini dosa nggak sih?” bisik Boni.

“Kalau ketahuan, iya.”

“Kalau nggak?”

“Ya… kita lihat nanti.”

Drama Dimulai

Sholat Subuh selesai.

Doa panjang.

Dzikir.

Dan akhirnya…

para santri keluar.

Lalu—

hening.

Beberapa detik pertama, semua masih bingung.

Kemudian…

“Eh… sandal gue mana?”

“Loh? Ini tadi di sini!”

“Siapa yang iseng?!”

Seketika suasana berubah jadi pasar malam.

Ada yang panik.
Ada yang marah.
Ada yang nyari sambil nyalahin orang lain.

Badrun dan Boni berdiri di kejauhan.

Menonton.

“Lihat tuh,” bisik Badrun, puas.
“Reaksi manusia tahap awal: kebingungan.”

Boni mulai panik.
“Gue rasa kita harus kabur.”

Belum sempat—

“BADRUUUUN!”

Suara itu menggelegar.

Semua langsung diam.

Ustadz Haris.

Ustadz Haris Turun Tangan

Ustadz Haris berjalan ke depan.

Tatapannya tajam.

“Siapa yang melakukan ini?”

Sunyi.

Tidak ada yang berani bicara.

Badrun pelan-pelan mundur.

“Bonn… kita mundur strategis.”

“INI BUKAN PERANG!”

“Diam.”

Ustadz Haris menyapu pandangan.

Lalu berhenti…

tepat ke arah Badrun.

“…kamu lagi?”

Badrun kaku.

“Kenapa selalu saya, Ustadz? Ini fitnah.”

Santri lain langsung kompak:

“ITU BADRUN!”

“PASTI BADRUN!”

“DIA DARI TADI DI SITU!”

Boni pelan-pelan geser menjauh.

“Maaf ya, Bud… survival.”

Sidang Dadakan

Badrun dan Boni berdiri di depan.

Seperti terdakwa.

“Jelaskan,” kata Ustadz Haris.

Badrun mencoba santai.
“Kami hanya… merapikan sandal.”

“Dengan cara disembunyikan?”

“Itu… strategi penataan baru.”

Boni langsung angkat tangan.
“Ustadz, saya cuma ikut-ikutan.”

“Jujur kamu.”

“Dia yang ngajak!”

“BONI!”

Hukuman yang Tidak Terhindarkan

Ustadz Haris menarik napas panjang.

“Baik. Kalian berdua—”

Badrun sudah pasrah.

“—kumpulkan semua sandal. Susun rapi. Dan setelah itu…”

Jeda.

“bersihkan halaman pesantren.”

Boni langsung lemas.

Badrun masih mencoba.

“Ustadz, boleh nego?”

“Tidak.”

“Sedikit?”

“Tidak.”

“Diskon?”

“BADRUN.”

“Iya, Ustadz.”

Misi Penebusan Dosa

Badrun dan Boni mulai mengumpulkan sandal.

Masalahnya—

mereka lupa posisi awalnya.

“Ini punya siapa?” tanya Boni.

“Coba cium.”

“APANYA YANG DICIUM?!”

“Ya kali ada nama.”

Hasilnya?

Sandal ketukar semua.

Santri makin ribut.

“INI BUKAN PUNYA GUE!”

“KENAPA BAU KAMAR MANDI?!”

Badrun menepuk kepala.
“Oke… eksperimen gagal.”

Mita Masuk

Di tengah kekacauan itu…

datanglah satu sosok.

Tenang.
Tapi auranya… berbahaya.

Mita.

Ia melihat sandalnya.

Lalu melihat Badrun.

Lalu…

menghela napas panjang.

“Badrun.”

Nada suaranya pelan.

Tapi itu lebih menyeramkan dari teriakan.

“Kenapa?”

“Kenapa hidupmu isinya menyusahkan orang?”

Badrun nyengir.
“Biar hidup berwarna.”

Mita mendekat.

“Kalau semua orang kayak kamu, dunia chaos.”

“Kan seru.”

Mita menatapnya tajam.

“Suatu hari kamu bakal capek sendiri.”

Badrun terdiam.

Sebentar.

Lalu kembali nyengir.

“Nggak mungkin.”

Pelajaran yang… Hampir Masuk

Sore harinya, setelah capek bersih-bersih…

Badrun duduk di bawah pohon.

Keringat.
Lelah.

Boni di sampingnya.

“Bud…”

“Iya?”

“Menurut lo… kita salah nggak?”

Badrun diam.

Lama.

“...sedikit.”

“SEDIKIT?!”

“Ya… dikit.”

“Semua orang kena!”

Badrun menatap langit.

“Gue cuma pengen bikin suasana hidup.”

Boni pelan berkata,
“Kadang… bikin hidup itu bukan bikin orang ribut. Tapi bikin orang nyaman.”

Sunyi.

Badrun tidak langsung jawab.

Untuk pertama kalinya…

ia berpikir.

Sedikit.

Malam itu, di kamar nomor 7…

Boni sudah tidur.

Badrun masih terjaga.

Menatap langit-langit.

Hari ini kacau.

Tapi…

entah kenapa…

kata-kata Mita dan Boni masih terngiang.

“Nyaman…”

Badrun menghela napas.

“Besok…”

katanya pelan.

“…kita bikin yang lebih seru.”

PAUSE.

“…tapi nggak nyusahin.”

PAUSE LAGI.

“…mungkin.”

Di ranjang sebelah—

Boni langsung bangun.

“JANGAN MUNGKIN DOANG!”

Next Episode