Pagi itu, suasana sekolah terasa berbeda bagi Budi.
Biasanya, ketika ia datang, selalu ada saja anak yang masih mau menyapa, meski setengah terpaksa. Tapi hari ini, saat ia melangkah masuk ke halaman sekolah, beberapa anak justru berhenti bicara.
Mereka saling melirik.
Lalu… diam.
Budi mengernyit.
“Kenapa sih mereka?” gumamnya.
Ia tetap berjalan santai, seolah tidak peduli.
Di dekat kelas, ia melihat sekelompok anak sedang bermain kelereng.
“Eh, gue ikut!” kata Budi sambil langsung jongkok.
Anak-anak itu saling berpandangan.
Salah satu dari mereka, Rian, buru-buru menutup lingkaran permainan dengan tangannya.
“Udah mau selesai,” katanya singkat.
Budi mengangkat alis. “Baru juga mulai.”
“Enggak kok. Udah selesai.”
Sunyi sejenak.
Budi tersenyum tipis. “Yaudah, gue bikin sendiri.”
Ia mengambil beberapa kelereng dari saku… lalu sengaja menembakkan kelerengnya keras ke arah permainan mereka.
KRAK!
Kelereng-kelereng itu berantakan.
“Heh! Apaan sih, Bud!” protes Rian.
Budi tertawa. “Biar seru.”
“Itu nggak seru! Itu ganggu!” bentak anak lain.
Untuk pertama kalinya, nada suara mereka tidak takut.
Budi berhenti tertawa.
“Apa?” katanya pelan.
Rian berdiri. “Kami lagi main. Kenapa sih kamu selalu ganggu?”
Budi ikut berdiri. “Lah, emang kenapa? Kalian juga main di sini.”
“Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya!”
Suasana mulai tegang.
Junod yang baru datang langsung mendekat. “Udah… udah… jangan ribut…”
“Diam kamu, Junod!” potong Rian.
Junod langsung terdiam.
Budi menatap Rian tajam. “Berani banget kamu.”
Rian tidak mundur. “Kami capek, Bud.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Capek.
Budi tidak pernah mendengar itu sebelumnya.
“Capek sama kamu,” lanjut Rian. “Kamu selalu ngerusak. Ngeganggu. Ngambil barang orang.”
Anak-anak lain mengangguk.
“Iya!”
“Bener!”
Budi mengepalkan tangan. “Terus kenapa?”
“Kami nggak mau main sama kamu lagi.”
Sunyi. Seolah waktu berhenti. Budi tertawa kecil. Tapi kali ini… terdengar kosong.
“Yaudah. Siapa juga yang butuh kalian.”
Ia berbalik, lalu berjalan masuk kelas. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang katanya tidak peduli.
… MoreDi dalam kelas, suasana tidak jauh berbeda.
Biasanya, Budi masih bisa duduk bebas di mana saja. Tapi hari ini, kursi di sekitarnya… kosong.
Bukan karena tidak ada yang datang.
Tapi karena mereka memilih menjauh.
Ia duduk di bangkunya, di samping Junod.
Junod pelan-pelan duduk juga.
“Bud…” katanya hati-hati.
“Apa?”
Junod menunduk. “Tadi… mereka cuma—”
“Udah. Nggak usah dibahas.”
Nada suara Budi dingin.
Junod terdiam.
Pelajaran dimulai.
Bu Sari menjelaskan seperti biasa.
Namun, Budi tidak fokus.
Ia melirik ke kanan, ke kiri.
Tidak ada yang melihatnya.
Tidak ada yang mengajaknya bicara.
Tidak ada yang takut padanya.
Aneh.
Tiba-tiba terasa… sepi.
Saat istirahat, biasanya Budi akan langsung ke kantin.
Hari ini, ia tetap melakukan hal yang sama.
Namun kali ini, ia melakukannya dengan sedikit lebih keras.
Lebih… menantang.
Ia melihat Rian sedang membeli minuman.
Tanpa berkata apa-apa, Budi mengambil gelas itu dan meminumnya.
“Eh!” Rian kaget.
Budi menatapnya. “Kenapa?”
“Itu punyaku!”
“Ya sekarang punyaku.”
Anak-anak di sekitar berhenti bergerak.
Rian menatap Budi.
Biasanya, ia akan diam.
Tapi tidak kali ini.
“Balikin, Bud.”
Budi tersenyum miring. “Kalau nggak?”
“Balikin.”
Nada suara Rian tegas.
Budi meletakkan gelas itu di meja… kosong.
Lalu dengan sengaja mendorongnya sampai jatuh.
PLAK!
Minuman itu tumpah ke lantai.
Beberapa anak tersentak.
“Ups,” kata Budi santai.
Rian mengepalkan tangan.
“Kenapa sih kamu selalu gitu?!”
“Gimana?”
“Nyakitin orang!”
Budi mendekat. “Itu cuma minuman.”
“Bukan itu masalahnya!”
Suasana memanas.
Junod datang berlari.
“Udah, udah… jangan berantem…”
“Junod, minggir!” kata Rian.
Budi menatap Junod. “Biarkan aja. Biar dia belajar.”
“Belajar apa?” bentak Rian.
“Belajar jangan sok berani.”
Tiba-tiba—
BUGH!
Rian mendorong Budi. Semua terdiam. Budi mundur satu langkah. Matanya membesar.
Ia tidak menyangka. Tidak pernah ada yang berani menyentuhnya seperti itu.
“Lo…” suara Budi bergetar.
Rian juga terlihat kaget dengan tindakannya sendiri. Tapi ia tidak mundur.
“Jangan ganggu kami lagi.”
Keributan itu akhirnya sampai ke guru.
Budi dan Rian dipanggil ke ruang guru.
Bu Sari menatap mereka berdua.
“Apa yang terjadi?”
Rian diam.
Budi langsung bicara, “Dia dorong saya duluan, Bu.”
“Kenapa kamu dorong Budi?” tanya Bu Sari.
Rian menunduk. “Karena… dia selalu ganggu, Bu.”
Bu Sari menghela napas.
Ia menatap Budi.
“Budi, ini bukan pertama kalinya kamu dilaporkan.”
Budi diam.
“Kenapa kamu suka mengambil barang teman tanpa izin?”
“Cuma bercanda, Bu.”
“Kalau temanmu tidak suka, itu bukan bercanda.”
Budi mengalihkan pandangan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Sepulang sekolah, suasana terasa berat.
Tidak ada yang berjalan di dekat Budi.
Ia sendirian.
Langkahnya pelan.
Tidak seperti biasanya.
Junod berjalan di belakangnya.
Ragu-ragu.
“Bud…” panggilnya pelan.
Budi tidak menoleh.
Junod mendekat.
“Aku masih temenan sama kamu kok.”
Budi berhenti.
Lalu menoleh.
“Kenapa?”
Junod tersenyum kecil. “Karena kamu temanku.”
Jawaban yang sama.
Selalu sama.
Budi menatapnya lama.
Lalu mendengus. “Terserah.”
Ia berjalan lagi.
Tapi kali ini, langkahnya tidak sekuat biasanya.
Sore itu, di depan kios beras, Budi duduk diam.
Tidak bermain.
Tidak berteriak.
Hanya diam.
Ayahnya melihatnya.
“Kenapa, Bud?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu berantem di sekolah?”
Budi terdiam.
“Dikit.”
Ayahnya mengangguk pelan. “Namanya juga anak-anak.”
Kalimat itu— Biasanya membuat Budi merasa aman. Tapi kali ini…
Entah kenapa terasa berbeda.
Di kejauhan, Junod duduk di samping kios jahit ayahnya.
Ia melihat Budi.
Ingin mendekat.
Tapi ragu.
Hari itu…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Budi merasakan sesuatu yang asing.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tapi…
Kosong.
Dan sedikit…
Sepi.